Fajarasia.id – Pertemuan Ke-80 Komite Perlindungan Lingkungan Laut (MEPC) sudah berlangsung di Markas Organisasi Maritim Internasional (IMO), London, Inggris, pada (3-8/7/2023). Hasilnya, menargetkan penurunan intensitas karbon dari industri pelayaran tahun 2040 dan ditargetkan diturunkan, menjadi sedikitnya 40 persen, pada 2030.
Selain itu, Pertemuan Ke-80 MEPC membahas pencegahan polusi laut dari kapal, efisiensi energi dari kapal, amandemen sejumlah ketentuan Konvensi MARPOL. Amandemen Konvensi Ballast Water Management (BWM), isu sampah plastik laut, penyusunan pedoman penggunaan biofuel sebagai bahan bakar alternatif, dan perlindungan kawasan laut sensitif (PSSA).
“Dalam pertemuan ini, disepakati antara lain, yaitu penetapan Program Kerja MEPC dan Subsidiary Bodies. Untuk periode 2024-2025, yaitu penetapan jadwal MEPC 81, pada 22-26 April 2024,” kata Delegasi Republik Indonesia Kapten Antoni Arif Priadi dalam keterangan tertulis Kemenhub di Jakarta,Senin (10/7/2023).
Kapten Antoni adalah Staf Ahli Menteri Perhubungan RI Bidang Kawasan dan Lingkungan Perhubungan, bertindak sebegai Ketua Pengganti I. MEPC Ke-80, kata dia, berhasil menyepakati Revisi Strategi IMO 2023 terkait Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG).
“Tercapai kesepakatan dengan narasi ‘penguatan upaya efisiensi energi pada kapal, penurunan intensitas karbon dari industri pelayaran pada 2040’. Ditargetkan diturunkan menjadi sedikitnya 40 persen, pada 2030 dibandingkan angka tahun 2008,” kata Kapten Antoni.
“(Kemudian, red) penggunaan teknologi nol atau rendah gas rumah kaca, sedikitnya sebesar 5 persen, diupayakan 10 persen pada 2030. Dan penurunan emisi GHG mencapai net zero, pada kisaran waktu atau mendekati, pada 2050,” ujar Kapten Antoni.
Kapten Antoni mengatakan, kesepakatn itu memuat visi dan misi. Melalui, level ambisi dan kumpulan upaya tindakan, disertai alur waktu, pelaksanaan kajian dampak kompherensif, dan tahapan pemilihan elemen jangka menengah.
Tapi, kata dia, Indonesia menolak penetapan ekonomi berdampak negatif terhadap negara berkembang. “Oleh karena itu, kami sampaikan, Indonesia tekankan pentingnya pemilihan upaya tepat, untuk menghadapi urgensi perubahan iklim,” kata Kapten Antoni.
Sebab, kata dia, upaya Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG) juga harus menjamin adanya transfer teknologi dan pengembangan kapasitas. “Bagi negara berkembang dalam rangka transisi energi dan teknologi,” kata Kapten Antoni.
Indonesia juga menyampaiakan gagasan lainnya dalam Pertemuan Ke-80 MEPC London. “Pentingnya pengembangan penggunaan biofuel dalam transisi energi, sambil mencari alternatif energi hijau lainnya,” ucap Kapten Antoni.
“Kami juga tekankan aspek keselamatan pelaut (seafarer) dalam penerapan teknologi baru, terkait penerapan technical measure. Dan pentingnya peningkatan kapasitas teknis sumber daya manusia, untuk menerapkan Revisi Strategi dengan efektif,” kata dia.
Selain itu, Indonesia juga mendukung pelaksanaan Comprehensive Impact Assessment. “Dan meminta agar data dan informasi yang digunakan faktual dan memperhatikan kondisi masing-masing negara,” ujar Kapten Antoni.
Sebagai informasi, Indonesia juga mensponsori rehat kopi (coffee break) di sela-sela Pertemuan Ke-80 MEPC. Yaitu, dalam rangka kampanye pencalonan Indonesia sebagai Anggota Dewan IMO Kategori C 2024-2025, pada Rabu (5/7/2023), sesi pagi hari.
Delegasi RI menyediakan jajanan tradisional Indonesia, dan membagikan suvenir berupa kopi Indonesia. Selain itu, kerajinan tangan tradisional Indonesia kepada para delegasi yang hadir pada Pertemuan Ke-80 MEPC.
Turut hadir sebagai delegasi RI, yakni Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Lollan Panjaitan, Atase Perhubungan KBRI untuk Inggris Barkah Bayu Mirajaya. Kasubdit Pencegahan Pencemaran dan Manajemen Keselamatan Kapal dan Perlindungan di Perairan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan Sthephanus Risdiyanyo, dan perwakilan dari kementerian/lembaga terkait.
Pertemuan juga dihadiri oleh negara-negara Anggota IMO, hingga para wakil dari badan-badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Para pengamat Intergovernmental Organizations (IGOs) dan Non-Governmental Organizations (NGOs) juga hadir.
Tak tertinggal, hadir sejumlah asosiasi terkait industri pelayaran dengan status konsultatif di Pertemuan Ke-80 MEPC London.***





