Fajarasia.id – Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, menyoroti keluhan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait mahalnya tiket pesawat Jakarta–Aceh yang sempat membuat relawan kesehatan harus transit di Malaysia demi mendapatkan harga lebih murah. Huda menyebut fenomena tersebut sebagai anomali transportasi udara yang memprihatinkan.
“Relawan kesehatan yang harus transit di Malaysia untuk menuju Aceh atau Medan karena tiket lebih murah adalah anomali. Fakta ini menunjukkan ada yang salah dalam pengelolaan transportasi udara kita,” ujar Huda.
Huda menilai ada empat faktor utama yang membuat maskapai nasional sulit bersaing dengan negara lain. Pertama, adanya PPN 11% untuk tiket domestik, sementara tiket internasional bebas pajak. Kedua, bea masuk suku cadang pesawat yang meningkatkan biaya pemeliharaan. Ketiga, harga avtur di Indonesia yang lebih tinggi dibanding Singapura dan Malaysia. Keempat, biaya layanan bandara yang langsung membebani konsumen.
“Padahal dengan kondisi geografis kita yang berupa kepulauan, transportasi udara seharusnya menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi dan sosial,” tegasnya.
Komisi V DPR disebut telah meminta pemerintah melakukan langkah-langkah strategis, mulai dari penghapusan PPN tiket domestik, relaksasi bea masuk suku cadang, membuka ruang bagi penyedia avtur swasta, hingga evaluasi tarif batas atas tiket pesawat. Menurut Huda, kebijakan ini akan memberi multiplier effect bagi sektor ekonomi, pariwisata, hingga sosial.
“Penurunan tiket sebesar 20% bisa meningkatkan pergerakan wisatawan nusantara hingga 35%. Logistik murah juga menekan inflasi di daerah terpencil dan memudahkan mobilisasi bantuan saat bencana,” jelasnya.
Menkes Budi Gunadi Sadikin kemudian mengklarifikasi bahwa keluhan tiket mahal terjadi karena periode libur Natal dan Tahun Baru, di mana tiket reguler sudah habis terjual sehingga relawan hanya mendapat kelas bisnis. Ia memastikan harga tiket kini kembali normal dan relawan bisa langsung terbang dari Jakarta ke Medan tanpa harus transit di luar negeri.
“Untuk minggu kedua atau ketiga Januari, relawan sudah bisa berangkat langsung. Traffic penerbangan sudah kembali normal,” kata Budi.






