Fajarasia.co – Ketua KADIN Libya, Farag Dribel Amer mengatakan, Libya memerlukan jutaan tenaga kerja asing, untuk mendukung pembangunan negara pasca perang.
“Kami berpikir untuk membangun kembali Libya dengan potensi 2 hingga 3 juta tenaga kerja asing,” ungkap Farag ketika ditemui di sela-sela pertemuan yang berlangsung di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Senin, (18/07/2022).
Menurutnya, terbuka lebar bagi tenaga kerja asing asal Indonesia terutama mereka yang merupakan tenaga kerja terkualifikasi baik.
“Jadi, saya pikir itu adalah kesempatan yang bagus untuk tenaga kerja dari Indonesia. Terutama, mereka yang sangat memenuhi syarat untuk datang dan bekerja di Libya,” tambahnya.
Di sisi lain, Libya yang sedang dalam masa transisi pasca perang disebut memerlukan banyak hal sebagai upaya pembangunan kembali negara itu.
Termasuk, menarik minat pengusaha Indonesia untuk menanamkan modalnya.
“Saya sendiri telah bernegosiasi dengan KADIN Jerman untuk sektor energi dan mereka akan memulai proyeknya. Jadi, ini bukan soal meyakinkan pengusaha Indonesia melainkan untuk berkata “Ayo cepat”,” terang Ketua KADIN Libya.
“Sebab, tidak ada waktu lagi. Jika, Anda menunggu lama maka perusahaan Amerika dan Eropa yang akan menguasai Libya. Yangmana kami sendiri tidak menginginkan itu,” sambungnya.
“Yang kami inginkan adalah sebagai negara muslim, maka kami ingin berurusan dengan negara muslim juga. Karena, setiap perusahaan yang hadir mereka akan datang dengan teknologi yang mereka miliki dan hal itu akan mempengaruhi budaya kami. Itu yang tidak kami inginkan, kami tetap ingin menjaga budaya kami. Yang merupakan budaya muslim,” sambungnya.
Untuk menarik minat para pengusaha Indonesia, Libya juga menjanjikan akan memberikan insentif serta menggelar pertemuan lebih lanjut.
“Iya (insentif untuk pengusaha Indonesia). Saya setuju dengan KADIN Indonesia bahwa kami akan segera menggelar pameran di Libya, mungkin pada September mendatang. Kami juga akan mengatur pertemuan pada pengusaha (Business to Business) baik di Jakarta atau di Tripoli,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama Kuasa Usaha Ad Interm (KUAI) Indonesia di Tripoli, Moehammad Amar Ma’ruf menyatakan, pertanian merupakan sektor lain yang berpeluang dikerjasamakan dengan Indonesia.
“Beberapa bulan lalu kami telah bertemu dengan pimpinan Kementerian Peternakan dan Pertanian Libya. Beliau menyampaikan permohonan secara tertulis kepada Indonesia, untuk memanfaatkan lahan seluas 200 hektar di wilayah Gharyan, Libya,” ungkapnya.
“Untuk hal ini sebagaimana masukan dari kementerian teknis di Jakarta, kami sedang menunggu proposal teknisnya,” kata KUAI Indonesia di Tripoli yang bergabung secara daring,” sambungnya.
“Selama ini produk kita menerima alat-alat kesehatan yang diproduksi perusahaan kita di Jogjakarta yang dikirim ke pelabuhan laut Libya,” tambahnya.
Sementara, 13 delegasi KADIN Libya berada di Indonesia untuk mempelajari lebih lanjut pengelolaan sektor perikanan selama 18 – 23 Juli.
Selain bertemu pihak-pihak terkait di Jakarta, delegasi KADIN Libya juga akan berkunjung ke Semarang dan Jepara, Jawa Tengah.****




