Irma Suryani Soroti Dapur Kotor dan Makanan Tak Layak: “Jangan Sampai Jadi Bom Waktu!”

Irma Suryani Soroti Dapur Kotor dan Makanan Tak Layak: “Jangan Sampai Jadi Bom Waktu!”

Fajarasia.id  — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan. Kali ini, Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago melontarkan kritik tajam terhadap kondisi dapur penyedia makanan yang dinilai jauh dari standar kebersihan. Dalam rapat bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Irma menyebut banyak dapur SPPG (Sentra Penyedia Pangan Gizi) masih menggunakan rumah biasa dengan ventilasi minim, saluran air buruk, hingga menimbulkan bau menyengat.

“Kalau dapurnya saja pengap, saluran airnya mampet, dan baunya menyengat, bagaimana kita bisa yakin makanan yang disajikan aman? Ini bisa jadi bom waktu kalau tidak segera dibenahi,” tegas Irma di Kompleks Parlemen, Senayan.

Politisi Partai NasDem itu juga menyoroti rendahnya angka dapur yang telah mengantongi Sertifikat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS). Dari ribuan SPPG yang tersebar di berbagai daerah, hanya sekitar 32 persen atau 6.150 unit yang dinyatakan layak secara sanitasi. Artinya, mayoritas dapur yang melayani kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil belum memenuhi standar kebersihan yang seharusnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, Irma mengungkap adanya laporan makanan matang yang ditemukan dalam kondisi tak layak konsumsi. Salah satu temuan ekstrem adalah ayam goreng yang mengandung belatung hidup. Ia menyebut kejadian ini tak masuk akal dan patut dicurigai sebagai bentuk kelalaian berat atau bahkan sabotase.

“Kalau belatung ditemukan di sayuran mentah, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau di ayam goreng yang sudah dimasak masih ada belatung hidup, itu enggak masuk akal. Ini harus diusut tuntas,” ujarnya dengan nada geram.

Irma mendesak BGN untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG, termasuk mempercepat proses sertifikasi kebersihan dan meningkatkan pengawasan di lapangan. Ia menegaskan, program MBG yang bertujuan mulia tidak boleh tercoreng hanya karena kelalaian dalam aspek sanitasi.

“Tujuan kita mulia, tapi pelaksanaannya harus serius. Jangan sampai niat baik ini justru berbalik jadi bencana kesehatan,” pungkasnya.

Pos terkait