Fajarasia.id – Pemerintah Iran meningkatkan kesiapsiagaan militernya di tengah memanasnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Media lokal Al Arabiya melaporkan bahwa angkatan bersenjata Iran baru saja menerima kiriman 1.000 unit drone tempur yang langsung didistribusikan ke berbagai cabang militer, Kamis (29/1/2026).
Meski belum merinci jenis dan model spesifik, otoritas militer Iran menyebut pengadaan ini mencakup beberapa kelas utama, mulai dari drone pengintai (ISR) hingga drone bersenjata. Kehadiran ribuan drone tersebut diyakini akan memperkuat sistem pertahanan sekaligus kemampuan serangan cepat Iran dalam menghadapi potensi eskalasi konflik.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kesiapan perang sekaligus pesan tegas bahwa Teheran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan militer dari luar.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman serangan militer jika Iran menolak menyepakati perjanjian baru terkait program nuklirnya. Meski serangan belum terjadi, Iran memilih memperkuat ketahanan militernya sebagai bentuk antisipasi.
Dalam pernyataan resmi, Wakil Kepala Angkatan Darat Iran Laksamana Muda Habibollah Sayyari menegaskan bahwa negaranya memiliki kapasitas untuk melukai pihak lawan jika diserang. “Kami memiliki kemampuan untuk melukai musuh, dan mereka tahu setiap agresi akan membawa biaya besar,” ujarnya.
Pernyataan ini diperkuat oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang menegaskan bahwa jika konflik bersenjata benar-benar pecah, Amerika Serikat akan menanggung kerugian jauh lebih besar dibandingkan Iran.
Iran menilai tuntutan Washington terkait kesepakatan nuklir bukan sekadar diplomasi, melainkan bentuk intimidasi militer yang mengancam kedaulatan negara. Pejabat militer Iran menegaskan bahwa setiap serangan akan dibalas dengan respons cepat dan terukur, memanfaatkan kekuatan pertahanan yang telah disiapkan.
Peringatan keras dari Teheran menambah panas situasi di Timur Tengah. Dengan ribuan drone tempur baru, Iran mengirim pesan bahwa mereka siap menghadapi segala skenario konflik, sekaligus menegaskan bahwa tekanan sepihak tidak akan membuat mereka tunduk. Kawasan kini berada dalam kondisi rawan, di mana satu keputusan politik dapat dengan cepat berubah menjadi konfrontasi bersenjata terbuka.





