Fajarasia.id – Program pelatihan literasi digital kewirausahaan dan bursa kerja nasional oleh Inggris, telah diikuti oleh 950 penyandang disabilitas di Indonesia. Mereka merupakan para peserta yang telah diakomodir ke dalam program bertajuk “Tech To Empower” secara online sejak 2020.
“Secara total kami kini telah memberdayakan 950 penyandang disabilitas di seluruh Indonesia sejak 2020, melalui pelatihan literasi digital kewirausahaan. Dan, bursa kerja nasional serta dengan mengembangkan pedoman disabilitas,” kata Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Matthew Downing dalam acara “Tech to Empower Summit” yang ketiga dengan tema “Kolaborasi Pentahelix Menuju Indonesia Inklusif”, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat sebagaimana rilis yang diterima Redaksi, Jumatr (19/1/2024).
Matthew menjelaskan, pencapaian itu diharapkan menjunjukkan komitmen Inggris terhadap inklusivitas khususnya di sektor teknologi. Serta, memastikan penyandang disabilitas tidak tertinggal dalam dunia yang semakin digital.
Menurut Matthew seperti halnya kerja sama dengan “Alunjiva Indonesia”, Inggris ingin memastikan penyandang disabilitas memiliki askes kerja di sektor ekonomi digital. Serta, menggarisbawahi kerja sama ini mendorong mendorong inklusivitas digital global pada program teknologi untuk pemberdayaan.
“Inisiatif ini adalah contoh utama dari dedikasi kami dalam mendukung hak dan pemberdayaan individu penyandang disabilitas. Tujuan kami adalah untuk menciptakan perubahan yang berarti melalui program ini,” ujarnya.
“Memastikan bahwa penyandang disabilitas di Indonesia memiliki akses yang sama terhadap pekerjaan di Indonesia yang sedang mengembangkan ekonomi digital.”
Pada kesempatan yang sama Co-Founder “Alunjiva Indonesia”, Fany Efrita mengungkapkan, program “Tech To Empower 2023” diikuti oleh 500 penyandang disabilitas di Indonesia. Program ini menciptakan ruang pembelajaran melalui penguatan program penguatan keterampilan digital dan pengembangan usaha disabilitas.
“Peningkatan keterampilan literasi digital di tenagakerjaan inklusif bagi disabilitas sangat penting dilakukan demi mewujudkan kesetaraan informasi. Agar mereka dapat meningkatkan kapasitas dan siap masuk ke lingkungan inskusif, baik itu dunia kerja profesional maupun berwirausaha,” kata Fany Efrita.
Fany Efrita menjelaskan, melalui program itu juga dikembangkan pedoman penerapan ekosistem inklusif. Yakni, bagi perusahaan dan disabilitas yang turut diluncurkan pada acara puncak “Tech To Empower 2023”.
“Melalui program “Tech To Empower 2023” kami juga mengembangkan sebuah pedoman penerapan ekosistem inklusif bagi perusahaan dan disabilitas. Juga panduan untuk menjadi wirausaha inklusif, jadi kami mengembangkan dua pedoman,” ujarnya.
Peserta asal Tangerang, Hana Pertiwi mengungkapkan, pelatihan literasi digital memberikan manfaat besar, terutama mengenai pemanfaatan digital untuk wirausaha. Perempuan lulusan jurusan apoteker ini berkeinginan menjadi seorang wirausaha, berbekal ilmu yang diperoleh selama pelatihan pada Agustus hingga Oktober 2023.
“Tidak menuntup kemungkinan ingin membuat wirausaha, apoteker kan membuat apotek, alau misalnya dia dibuka secara offline, juga bisa dijual secara online. Itu yang perlu saya tahu bagaimana cara pemasarannya di era digital,” kata perempuan penyandang “low hearing” atau gangguan pendengaran rendah ini. ****






