Film ‘Wage’ Hidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda Lewat Kisah WR Supratman

Film ‘Wage’ Hidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda Lewat Kisah WR Supratman

Fajarasia.id  – Film “Wage” menjadi salah satu karya sinema yang mengangkat kembali semangat perjuangan pemuda Indonesia menuju kemerdekaan. Mengisahkan perjalanan hidup Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, film ini menyuguhkan potret perjuangan yang jarang tersentuh dalam narasi sejarah populer.

Disutradarai oleh John de Rantau dan dirilis pada tahun 2017, “Wage” berdurasi 120 menit dan menampilkan Rendra Bagus Pamungkas sebagai pemeran utama. Melalui karakter WR Supratman, penonton diajak menyelami kehidupan seorang jurnalis sekaligus komponis yang menjadikan musik sebagai alat perjuangan.

Film ini menggambarkan bagaimana WR Supratman tumbuh sebagai pemuda dengan cita-cita besar di tengah tekanan kolonialisme. Ia aktif dalam berbagai forum diskusi dan organisasi pemuda di Pulau Jawa, menyuarakan penderitaan rakyat melalui karya-karya musik yang sarat makna perjuangan.

Puncak cerita terjadi saat Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928, ketika lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya dimainkan. Momen tersebut bertepatan dengan lahirnya ikrar Sumpah Pemuda, simbol persatuan bangsa yang menjadi tonggak penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Meski menghadapi larangan dari pemerintah kolonial Belanda, WR Supratman tetap memainkan lagu tersebut dengan biola sebagai simbol perlawanan. Tanpa kata-kata, alunan musiknya menyampaikan pesan kemerdekaan yang menggugah hati para pemuda.

Sayangnya, WR Supratman tidak sempat menyaksikan kemerdekaan yang ia perjuangkan. Ia wafat pada tahun 1938, tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka. Namun, warisan perjuangannya tetap hidup melalui lagu Indonesia Raya dan semangat persatuan yang ia tanamkan.

“Wage” bukan sekadar film biografi, tetapi juga pengingat akan pentingnya peran pemuda dalam membangun bangsa. Kisah WR Supratman menjadi refleksi bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui seni, pemikiran, dan keberanian menyuarakan kebenaran.****

Pos terkait