Fajarasia.id— Anggota Komisi IX DPR RI, Muazzim Akbar, menegaskan pentingnya memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD—yang dikenal sebagai kelompok 3B—sebagai strategi utama dalam upaya menurunkan angka stunting secara nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Muazzim dalam kegiatan sosialisasi Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ia menekankan bahwa intervensi gizi pada kelompok 3B harus dibarengi dengan edukasi tentang usia ideal menikah, perencanaan keluarga, dan pola asuh yang sehat.
“Pemberian makanan bergizi untuk kelompok 3B adalah langkah awal yang penting. Tapi untuk hasil yang berkelanjutan, masyarakat juga perlu memahami pentingnya membangun keluarga pada usia yang matang dan dengan kesiapan yang baik,” ujar Muazzim dalam keterangan resmi di Jakarta.
Ia merujuk pada standar usia ideal menikah yang ditetapkan oleh BKKBN, yakni minimal 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Menurutnya, usia tersebut bukan sekadar angka, melainkan mencerminkan kesiapan fisik, mental, sosial, dan ekonomi pasangan dalam membangun keluarga yang sehat.
Senada dengan itu, Direktur Kebijakan Strategi Bidang Peningkatan Kualitas Sumber Daya dan Kemandirian Keluarga Berencana BKKBN, Indra Murty Surbakti, menyampaikan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif. Ia menekankan bahwa intervensi gizi perlu didukung oleh perubahan perilaku dan edukasi keluarga.
“Stunting tidak hanya soal makanan, tapi juga soal bagaimana keluarga dibentuk dan dijalankan. Mulai dari usia menikah, perencanaan kehamilan, hingga pola pengasuhan anak,” jelas Indra.
Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Lalu Makripuddin, turut menyoroti tantangan di daerahnya. Ia menyebut bahwa perkawinan usia anak masih menjadi faktor utama tingginya angka stunting di NTB. Oleh karena itu, sosialisasi mengenai usia ideal menikah dan edukasi gizi harus menjadi bagian integral dari program MBG.
“Melalui MBG untuk kelompok 3B, kami ingin memastikan bahwa intervensi gizi benar-benar menyentuh sasaran yang paling membutuhkan, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan optimal,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara berbagai pihak untuk memastikan implementasi Program Bangga Kencana dan MBG 3B berjalan efektif dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas keluarga di Indonesia.****





