fajarasia.id – Banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatra Utara meninggalkan duka bagi warga Desa Manalu, Kecamatan Pakkat. Meski tak ada korban jiwa, sawah dan ladang seluas 20 hektare hancur tertimbun lumpur.
Padi dan jagung yang tinggal dua pekan lagi panen lenyap seketika. “Padinya enam bulan, jagungnya juga hampir siap panen. Dua minggu lagi panen, tapi semua tertutup lumpur,” ujar Bonor Sinaga, Kepala Desa Manalu, Kamis (4/12).
Sebanyak 90 persen warga menggantungkan hidup dari hasil tani. Gagal panen membuat mereka kehilangan sumber pangan sekaligus penghasilan. Situasi makin sulit karena listrik padam, internet terputus, dan akses air bersih terganggu sejak bencana 25 November.
Pemerintah kabupaten sudah melakukan pendataan lahan rusak, namun warga masih menunggu kepastian bantuan benih, pangan, dan pemulihan ekonomi. “Pendataan selesai, tinggal menunggu tindak lanjutnya. Warga berharap ada kepastian,” kata Bonor.
Meski rumah warga selamat, dampak ekonomi dan pangan disebut jauh lebih berat. Hingga kini, masyarakat Desa Manalu masih bertahan dengan penuh kegelisahan sambil menanti langkah nyata pemerintah.




