Fajarasia.id – Fenomena boomcession tengah melanda Amerika Serikat, di mana indikator ekonomi terlihat kuat namun kehidupan nyata masyarakat justru semakin tertekan. Istilah ini diperkenalkan oleh aktivis antimonopoli Matt Stoller, menggambarkan jurang antara pertumbuhan ekonomi dan rasa aman rumah tangga.
Meski pasar saham reli dan konsumsi tetap terjaga, utang rumah tangga mencapai rekor tertinggi. Banyak warga merasa tidak ikut menikmati hasil pertumbuhan, bahkan sebagian besar yakin ekonomi AS sedang melemah. Inflasi yang tidak merata memperburuk ketimpangan, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang lebih terbebani harga pangan dan perumahan.
Data Federal Reserve menunjukkan utang kartu kredit menembus US$1,28 triliun, sementara survei Guardian Harris mengungkap hampir tiga perlima warga percaya ekonomi sedang resesi. Kondisi ini membuat rasa aman finansial rumah tangga AS semakin rapuh.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja mengalami fenomena jobless boom, dengan perekrutan rendah meski PHK juga minim. Produktivitas meningkat, tetapi pekerja khawatir dampak adopsi teknologi AI akan mengurangi kebutuhan tenaga kerja.***





