Fajarasia.id – Mata mengantuk saat malam tiba, namun hatinya tetap dag dig dug, karena was-was saat hendak memejamkannya. Terlebih saat hujan kembali turun mengguyur Desa Aekraisan, Kecamatan Adiancoting, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut).
Lantaran, bahaya yang dapat merenggut nyawa terus mengintai dalam kelengahan bila mata dan tubuhnya diistirahatkan. Ancaman banjir bandang serta longsor susulan selalu menghantui pikiran Zulfrida Hutabarat.
Seorang ibu dengan tiga orang anaknya itu terpaksa harus kembali kerumah kontrakannya di Desa Desa Aekraisan, Kecamatan Adiancoting, Tapanuli Tengah. Kedekatan itu didorong oleh tiga buah hatinya yang tidak nyaman dan kerasan tinggal di Posko Pengungsian.
Zulfrida Hutabarat menuturkan bila ketiga anaknya itu terus merengek kembali ke rumah. Padahal bangunan belakangnya telah tertimbun lumpur setinggi dua meter.
“Kami terpaksa kembali ke rumah kontrakan. Namun, saya sangat was-was dan khawatir bila turun hujan di malam hari saat tertidur,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Wanita dari isteri seorang sopir ekspedisi itupun mengingat bagaimana pada 24 November lalu. Dimana bencana yang melanda membuat dirinya trauma.
“Tanggal 24 bulan 11, Selasa siang lah mulai kejadian ini (banjir bandang dan longsor, Red). Pagi, pagi udah mulai deras hujan gitu kan, tapi kalau ini kejadian yang longsor, mulai malam lah,” kata Zulfrida.
Zulfrida bercerita bila pada pukul 20 WIB, pohon-pohon yang besar sudah mulai berterbangan. “Terus tanahnya jalan, tanahnya pun udah mulai longsor,” ucapnya.
Kemudiam, sambung Zulfrida, tiba-tiba langsung mati lampu serta hujannya kian deras. Anginnya pun kencang, lalu rumah kontrakannya sudah mulai tertimbun longsor dibagian belakang.
Senada dilayangkan Fitri Hutabarat, tetangga Zulfrida. Rumahnya akibat tertimpa longsor tidak bisa ditempati. “Belakangnya tertimbun lumpur dan bagian depannya pun langsung jatuh. “Kami langsung lari gitu lah krtempat pengungsian gitu,” ujarnya.
Saat bencana itu melanda, lanjutnya, orang tua laki-lakinya dalam keadaan sakit dan tidak kuat untuk berjalan. “Bapak sakit, dengan sekuat tenaga terus kami larikanlah anak-anak ini semua, ada yang digendong, ada yang jalan kaki, kayak gitu lah,” kata Fitri seraya air matanya menetes.
“Karena, kami takutnya yang gunung itukan, di gunung itu, bukit gunung itu. Nanti kalau jatuh longsor semua, kami bisa mati semua,” katanya lirih.
Fitri menyatakan dirinyapun mencari pengungsian yang aman. Kemudian mendapatkan pengungsian dimana dilokasi itu sudah terdapat 30 warga lainnya.
“Kami ada 30 orang, tapi tempatnya itu kayak pondok gitu ya, kayak pondok yang di sawah-sawah gitu. Tapi bantuan tetap sampai, ada telur, ada beras, ada mie islnstan, minyak-minyak, ada cabai, ikan asin,” kata dia.
Diapun berharap bencana ini tidak terulang kembali dan pemerintahpun tidak berhenti dalam membantu warganya. “Kami berharap segera pulih dan tidak terulang kembali,” ujarnya.





