Fajarasia.id – Anggota Komisi IV DPR, Rajiv mendorong pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor sapi dari sejumlah negara. Ia meminta pemerintah untuk membuat kebijakan strategis, agar meningkatkan produksi peternakan sapi lokal.
“Impor sapi dan kerbau memang keniscayaan, saya paham pemerintah harus memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun pemerintah harus punya strategi, agar kelak impor sapi kerbau harus berhenti karena kita sudah swasembada daging,” kata Rajiv dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, pada Minggu (23/2/2025).
Rajiv menyatakan, kebijakan yang mendukung peternak lokal, diantaranya subsidi pakan ternak hingga peningkatan kapasitas produksi. Selain itu, penguatan sistem distribusi dan logistik untuk memastikan akses pasar lebih luas bagi peternak kecil dan menengah.
“Setahu saya lama penggemukan sapi bakalan sampai siap potong adalah tiga sampai lima bulan. Padahal minggu depan sudah bulan puasa dan akhir Maret sudah Lebaran, Kementan dan Bapanas harus clear,” ucapnya.
Rajiv menambahkan, dalam 10 tahun terakhir ternak sapi dan kerbau di Indonesia turun sebesar 17,21 persen. Hal ini akibat tidak sanggup bertahan menghadapi persaingan harga dan kurangnya dukungan dari pemerintah.
“Saat paparan di hadapan Komisi IV DPR, Bapanas bilang stok daging sapi 65 ribu ton. Dan produksi daging dalam negeri 551 ribu ton per tahun atau setara 45 ribu ton daging per bulan yang artinya cukup untuk kebutuhan saat ini,” ujarnya.****





