Fajarasia.id — Bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,85 persen pada Rabu (4/11/2026). Kebijakan moneter teranyar ini membawa tingkat suku bunga di Negeri Kanguru menembus posisi tertinggi dalam 18 tahun terakhir, tepatnya sejak November 2008.
Keputusan RBA menaikkan suku bunga yang kelima kalinya sepanjang 2026 ini diambil sebagai respons atas lonjakan inflasi yang kian tak terkendali. Indeks Harga Konsumen (IHK) Australia melesat hingga 4,3 persen pada September lalu, terpicu oleh tingginya harga bahan bakar, komoditas global, serta melonjaknya permintaan perangkat teknologi akibat masifnya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Gubernur RBA Michelle Bullock mengungkapkan, langkah pengencangan moneter ini ditempuh karena indikator risiko kenaikan harga-harga sudah mulai terealisasi. Pihaknya tak menutup kemungkinan untuk kembali mengerek suku bunga jika tekanan inflasi belum mereda.
“Kami melihat tanda-tanda bahwa risiko kenaikan terhadap inflasi mulai terwujud. Kenaikan tambahan akan datang jika itu yang diperlukan untuk menurunkan inflasi,” tegas Bullock.
Meskipun laju pertumbuhan ekonomi Australia melambat dan tekanan biaya hidup kian membebani aktivitas konsumsi rumah tangga, RBA memproyeksikan inflasi baru akan melandai ke target 2–3 persen pada akhir 2027. Pihak bank sentral juga optimistis tekanan moneter ini tidak akan membawa perekonomian Australia ke jurang resesi.*****





