Rusia Klaim Hancurkan 1.015 Drone Ukraina, Serangan Tewaskan Warga

Rusia Klaim Hancurkan 1.015 Drone Ukraina, Serangan Tewaskan Warga

Fajarasia.id — Perang Rusia-Ukraina kembali memanas setelah Kyiv melancarkan serangan drone berskala besar ke sejumlah wilayah Rusia. Moskow mengklaim telah menghancurkan 1.015 drone Ukraina dalam serangan yang menyasar 15 wilayah, Semenanjung Krimea, dan Laut Hitam pada Minggu.

Serangan tersebut dilaporkan memicu kebakaran di terminal ekspor minyak dan depot bahan bakar. Dampaknya juga meluas ke sektor logistik dan teknologi, termasuk pusat logistik milik peritel Ozon serta pusat data yang dioperasikan perusahaan teknologi VK.

Melansir Reuters, Senin (19/10/2026), serangan besar-besaran itu berlangsung ketika hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Ukraina menghadapi tekanan baru. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbeda pandangan mengenai sanksi terhadap Moskow dan langkah untuk mengakhiri perang.

Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov mengatakan, serangan di wilayahnya menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya.

Ketegangan politik meningkat setelah Trump membela keputusannya menunda penerapan sanksi baru terhadap Rusia. Ia beralasan, langkah tersebut tidak boleh membuat Moskow semakin menjauh dari meja perundingan.

“Saya bisa menandatanganinya nanti, atau kapan pun saya mau!” tulis Trump melalui media sosial.

Trump juga menuding Zelenskyy tidak menunjukkan keinginan untuk mengakhiri perang karena Ukraina terus melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan keras dari Zelenskyy. Ia menilai pelonggaran sanksi justru berpotensi memperkuat kemampuan Rusia untuk melanjutkan agresi militernya terhadap Ukraina.

Dalam wawancara dengan NBC, Zelenskyy memperingatkan bahwa keberpihakan Washington kepada Moskow akan menjadi “kesalahan bersejarah”.

Ia menegaskan, Rusia merupakan pihak yang memulai invasi dan menduduki wilayah Ukraina.

“Dia adalah seorang agresor. Dia menduduki wilayah kami. Dia membunuh orang dewasa dan anak-anak,” ujar Zelenskyy, merujuk pada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di tengah perselisihan tersebut, Ukraina menuduh Rusia tetap menyerang infrastruktur energinya meskipun Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan “gencatan senjata energi” pada 11 Oktober.

Zelenskyy menyebut Rusia telah melancarkan 76 serangan terhadap sektor energi, minyak, dan gas Ukraina selama sepekan setelah pengumuman tersebut.

Serangan terbaru di empat wilayah Ukraina menyebabkan puluhan ribu keluarga kehilangan akses listrik.

Melalui platform X, Zelenskyy meminta pemerintah AS mempertimbangkan tindakan Rusia dalam menentukan kebijakan terhadap Moskow.

Ia menilai Rusia tidak menunjukkan langkah timbal balik atas pelonggaran sanksi maupun kesepakatan yang telah diumumkan. Menurutnya, Moskow justru memanfaatkan peluang diplomatik untuk memperoleh keuntungan dalam perang.

Sementara itu, serangan Rusia di Zaporizhzhia, Ukraina selatan, dilaporkan menewaskan seorang perempuan dan melukai sejumlah orang, termasuk seorang anak perempuan berusia enam tahun.

Dampak konflik juga meluas hingga ke negara tetangga. Kementerian Luar Negeri Ukraina menyampaikan permintaan maaf kepada Lithuania setelah sebuah drone memasuki wilayah udara negara tersebut dan merusak mobil yang sedang melaju.

Kyiv menduga drone itu menyimpang dari jalurnya akibat gangguan sistem peperangan elektronik Rusia.

Di tengah meningkatnya serangan dan ketegangan diplomatik, Zelenskyy mengungkapkan bahwa komunikasi intelijen antara AS dan Ukraina kembali berjalan setelah sempat mengalami hambatan.

Ia juga mengatakan telah berbicara dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengenai hasil pertemuan tim negosiasi kedua negara di Miami pada 9 Oktober serta langkah diplomasi selanjutnya.

Meski komunikasi diplomatik mulai berjalan kembali, perbedaan sikap mengenai sanksi terhadap Rusia dan serangan terhadap infrastruktur energi masih menjadi hambatan utama.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina belum menunjukkan titik terang. Di saat kedua pihak terus saling menyerang, warga sipil dan fasilitas penting tetap menghadapi risiko besar, sementara peluang mencapai kesepakatan damai masih dibayangi ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang bertikai.****

Pos terkait