Fajarasia.id — Kerusuhan kembali melanda pusat Kota Milan, Italia, setelah sekelompok pemuda memecahkan kaca etalase dan menjarah sejumlah toko di kawasan Piazza del Duomo. Insiden ini terjadi sehari setelah bentrokan dalam aksi protes menentang kenaikan biaya hidup.
Menurut laporan surat kabar La Repubblica yang dikutip pada Senin (19/10), sedikitnya 2.000 pemuda dilaporkan terlibat dalam kerusuhan tersebut.
Massa dilaporkan menghancurkan kaca etalase menggunakan berbagai benda, seperti tempat sampah, kursi, dan sepeda listrik. Setelah itu, mereka menerobos sejumlah toko, terutama gerai perlengkapan olahraga dan supermarket.
Hingga laporan tersebut disusun, belum ada informasi mengenai bentrokan besar baru di lokasi kejadian. Meski demikian, aparat keamanan meningkatkan penjagaan untuk mengantisipasi kerusuhan susulan.
Kepolisian Italia menambah personel di kawasan Piazza del Duomo. Mobil patroli dan petugas keamanan disiagakan di sejumlah titik, sementara kendaraan meriam air dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan bentrokan.
Laporan siaran langsung Corriere della Sera menyebutkan, situasi di pusat kota Milan telah berangsur tenang. Namun, polisi dengan perlengkapan khusus tetap dikerahkan untuk menjaga keamanan di sejumlah ruas jalan.
Seruan untuk kembali berkumpul di Piazza del Duomo juga dilaporkan beredar melalui media sosial sejak Minggu pagi. Kondisi tersebut mendorong aparat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kerusuhan lanjutan.
Kepolisian Negara Italia menyatakan sebanyak 197 orang telah dibawa untuk menjalani pemeriksaan identitas selama rangkaian kerusuhan di Milan, Bologna, Turin, dan sejumlah kota lainnya.
Dari jumlah tersebut, 28 orang dilaporkan ditangkap. Mereka terdiri atas 12 anak di bawah umur dan enam warga negara asing.
Selain itu, sebanyak 141 petugas penegak hukum dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan yang terjadi dalam rangkaian kerusuhan tersebut.
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kerusuhan tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga aparat yang bertugas mengamankan situasi.
Kerusuhan juga menimbulkan kerugian ekonomi. Asosiasi pengusaha Italia, Unimpresa, memperkirakan kerugian akibat insiden tersebut mencapai sekitar 1,3 juta euro atau setara Rp 26,3 miliar.
Kerusakan etalase dan penjarahan toko menjadi salah satu dampak yang harus ditanggung pelaku usaha di tengah situasi keamanan yang tidak menentu.
Perkembangan ini menambah tekanan terhadap pusat kota Milan setelah aksi protes terkait kenaikan biaya hidup berujung bentrokan. Aparat kini berupaya menjaga situasi tetap terkendali sekaligus mencegah terulangnya aksi perusakan dan penjarahan.
Hingga kini, pengamanan di sejumlah titik masih menjadi perhatian untuk memastikan aktivitas masyarakat dan perdagangan dapat kembali berlangsung normal.****





