Fajarasia.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah terus memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan melalui program Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026. Upaya ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah masyarakat yang terjangkau layanan keuangan, tetapi juga memperkuat pemahaman agar masyarakat mampu menggunakannya secara bijak.
Kepala OJK Sulawesi Tengah Bonny Hardi Putra mengatakan, rangkaian kegiatan BIK 2026 telah berlangsung sejak September dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari industri jasa keuangan hingga pemerintah daerah.
“Melalui kegiatan ini, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan berusaha untuk memberikan akses yang seluas-luasnya kepada berbagai lapisan masyarakat dan meningkatkan pemahaman terhadap produk dan layanan keuangan,” kata Bonny pada puncak BIK 2026 di Palu, Minggu (25/10/2026) malam.
Menurut dia, perluasan akses keuangan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan literasi, perlindungan konsumen, serta pembentukan kebiasaan menabung sejak dini, khususnya di kalangan pelajar.
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan berada di angka 93,61 persen.
Di Sulawesi Tengah, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 60,07 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 88,65 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan masih perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai cara kerja, manfaat, dan risiko produk keuangan.
Bonny menegaskan, keberhasilan inklusi keuangan tidak semata-mata diukur dari pencapaian angka dan target. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan keuangan yang tepat, memahami kewajiban, serta menghindari risiko yang dapat merugikan kondisi ekonomi mereka.
Dalam rangkaian BIK 2026, OJK Sulteng menyelenggarakan berbagai kegiatan, antara lain edukasi keuangan bagi pelajar dan mahasiswa, gelar wicara, kompetisi cerdas cermat keuangan, BIK Idol, serta UMKM Summit.
UMKM Summit menjadi salah satu agenda untuk mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan industri jasa keuangan. Melalui kegiatan ini, pelaku usaha diharapkan lebih mudah memperoleh informasi dan akses pembiayaan untuk mengembangkan usahanya.
Akses terhadap modal dinilai penting bagi UMKM, terutama untuk memenuhi kebutuhan operasional, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas pasar. Namun, pemanfaatan pembiayaan juga perlu disertai pemahaman mengenai kemampuan membayar dan risiko kewajiban keuangan.
OJK Sulteng turut mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Sulawesi Tengah dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan, OJK juga memberikan apresiasi kepada pelaku industri jasa keuangan dan media massa yang aktif mendukung program literasi serta inklusi keuangan.
Bonny menekankan, peningkatan literasi dan inklusi keuangan merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan agar layanan keuangan tidak hanya mudah dijangkau, tetapi juga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ini bukan program OJK sebenarnya, program kita semua, bagaimana meningkatkan literasi dan inklusi keuangan yang tujuannya adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.****





