Lirik Proyek PLTS 100 GW, Raksasa Baterai China Tsingshan Siap Gandeng Danantara

Lirik Proyek PLTS 100 GW, Raksasa Baterai China Tsingshan Siap Gandeng Danantara

Fajarasia.id  – Raksasa industri nikel dan baterai asal China, Tsingshan Group, menyatakan minatnya untuk berpartisipasi aktif dalam pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) di Indonesia.

Komitmen investasi energi hijau tersebut akan dijalankan melalui kemitraan strategis bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa pihak Tsingshan telah membuka komunikasi awal untuk merealisasikan rencana besar tersebut.

“Mereka siap dan sudah berbicara dengan Danantara untuk berpartisipasi aktif dalam program panel surya 100 GW. Rencana ini segera kami bahas bersama Menko Hilirisasi dan Bapak Presiden,” ujar Rosan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam acara Groundbreaking 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai EV di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Jumat (9/10/2026).

Rekam Jejak Energi Bersih di Sumenep

Sebelum membidik proyek 100 GW, Tsingshan telah menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan energi terbarukan di tanah air melalui pembangunan PLTS berkapasitas 2 GW di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Fasilitas energi bersih tersebut tersebar di Pulau Gili Labak dan Pulau Sepanjang Kecil, di mana satu lokasi telah beroperasi penuh dan satu lokasi lainnya telah mencapai progres fisik 75 persen.

“Satu fasilitas sudah berjalan dan satu lagi ditargetkan rampung dalam waktu dekat,” tambah Rosan.

Ekspansi ke sektor energi terbarukan ini memperkuat portofolio investasi Tsingshan di Indonesia. Sebelumnya, konglomerasi tersebut telah membangun kawasan industri pengolahan nikel terpadu IWIP seluas 3.000 hektar di Halmahera Tengah sejak 2018, bermitra dengan Huayou Cobalt dan Zhenshi Holding Group.

Rosan menyoroti besarnya kontribusi ekonomi yang dihasilkan dari ekosistem industri yang dibangun Tsingshan. Gabungan nilai ekspor dari dua kawasan industri utamanya, yakni IWIP di Maluku Utara dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah, menembus angka 28 miliar dollar AS.

“Total ekspor dari IWIP dan IMIP menyumbang sekitar 10 persen dari total ekspor nasional. Angka ini sangat signifikan bagi perekonomian Indonesia,” tegas Rosan.****

Pos terkait