Fajarasia.id — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menegaskan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam merespons berbagai krisis global, baik yang bersumber dari konflik bersenjata maupun bencana alam. Kepekaan moral yang melintasi sekat lintas negara, ras, hingga agama dinilai sebagai modal krusial masyarakat dunia untuk merajut solusi bersama.
Pesan mendasar tersebut disampaikan JK dalam kuliah umumnya di Yale University, New Haven, Connecticut, Amerika Serikat, yang dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan akademisi.
“Kemanusiaan harus menjadi paradigma utama kita dalam menghadapi krisis global. Kemanusiaan melampaui batas negara, ras, etnis, agama, dan afiliasi apa pun. Selama rasa kemanusiaan menjadi titik tolak kita, krisis global dapat kita hadapi dan atasi bersama,” ujar JK dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (25/10/2026).
Dalam paparannya, tokoh perdamaian nasional ini menyoroti pergeseran dinamika geopolitik dan kekuatan militer dunia. Menurutnya, dominasi persenjataan modern terbukti tak lagi menjadi jaminan mutlak kemenangan suatu negara dalam pertempuran.
JK mencontohkan eskalasi perang Rusia-Ukraina yang berlarut-larut, daya tahan Iran menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, hingga manuver kelompok Houthi di kawasan Teluk. Fenomena ini menunjukkan bahwa penguasaan teknologi, strategi pertahanan, dan kualitas sumber daya manusia memegang peran yang kian dominan.
“Perkembangan konflik saat ini menunjukkan keunggulan persenjataan saja tidak cukup. Semangat, strategi, serta kemampuan menguasai dan mengoperasikan teknologi sangat menentukan,” tuturnya.
Atas dasar itu, JK mengingatkan bahwa penyelesaian konflik keamanan internasional tidak akan pernah cukup jika hanya mengandalkan pendekatan militer. Dialog yang konstruktif, pemahaman mendalam atas akar masalah, serta diplomasi kemanusiaan tetap menjadi kunci utama dalam membuka jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.****





