IHSG Anjlok, HIPMI Ingatkan Pengusaha Tak Panik

IHSG Anjlok, HIPMI Ingatkan Pengusaha Tak Panik

Fajarasia.id – Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Ade Jona Prasetyo mengajak masyarakat, investor, dan pelaku usaha tetap optimistis menyikapi penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurut dia, gejolak pasar saham tidak serta-merta mencerminkan memburuknya seluruh kondisi perekonomian nasional.

“IHSG boleh anjlok hari ini, tetapi bukan berarti ekonomi Indonesia tamat,” kata Ade Jona dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Ade Jona menilai, pergerakan pasar modal merupakan bagian dari dinamika perekonomian yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perkembangan ekonomi global hingga sentimen investor dan kondisi pasar keuangan.

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan terhadap gejolak pasar dalam jangka pendek. Kepanikan, menurut dia, justru berpotensi memperburuk sentimen dan mengganggu kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Ia menegaskan, Indonesia masih memiliki potensi pasar yang besar, fondasi ekonomi, serta sektor riil yang perlu terus diperkuat untuk menjaga momentum pertumbuhan.

“Kita tidak boleh kehilangan optimisme hanya karena gejolak pasar dalam satu hari. Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar, pengusaha yang tangguh, dan peluang investasi yang masih sangat luas. Yang dibutuhkan sekarang adalah ketenangan, kepercayaan, dan kerja bersama,” ujarnya.

Ade Jona menyatakan, HIPMI mendukung upaya pemerintah bersama otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas pasar, memperkuat kepercayaan investor, dan memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Menurut dia, situasi pasar yang bergejolak membutuhkan koordinasi antarpemangku kepentingan, kebijakan yang tepat, serta kepastian bagi dunia usaha.

“Kami percaya pemerintah memiliki komitmen kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam situasi seperti ini, yang diperlukan bukan saling menyalahkan atau membangun ketakutan, melainkan memperkuat koordinasi, menghadirkan kebijakan yang tepat, dan memberikan kepastian kepada dunia usaha. HIPMI mendukung langkah-langkah pemerintah untuk menjaga kepercayaan pasar,” kata Ade Jona.

Lebih lanjut, Ade Jona menekankan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pergerakan indeks saham. Aktivitas industri, perdagangan, konsumsi masyarakat, investasi produktif, serta perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi indikator penting kekuatan ekonomi nasional.

Ia menilai, penguatan sektor riil, peningkatan investasi, dan perluasan kesempatan kerja perlu terus dilakukan agar perekonomian tetap memiliki daya tahan menghadapi tekanan eksternal.

“Ekonomi Indonesia jauh lebih besar daripada angka yang bergerak di layar bursa. Ada jutaan pelaku UMKM, pekerja, industri, dan pengusaha yang setiap hari terus menggerakkan perekonomian. Inilah kekuatan yang harus kita jaga. Jangan sampai kepanikan sesaat membuat kita melupakan potensi besar bangsa sendiri,” tuturnya.

Ade Jona berharap pelaku usaha tetap menjalankan aktivitas bisnis secara terukur, sementara pemerintah dan otoritas terkait terus menjaga stabilitas serta memberikan kepastian bagi investor.

Menurut dia, optimisme perlu disertai langkah konkret untuk memperkuat produktivitas, menjaga kepercayaan pasar, dan memastikan peluang pertumbuhan ekonomi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.***

Pos terkait