Fajarasia.id — Setelah hampir lima bulan bergelut dengan kemarau dan kabut asap pekat, hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah disambut penuh haru. Di Martapura, Kabupaten Banjar, sejumlah relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bahkan bersujud syukur di tengah jalan yang basah.
Momen tersebut menjadi gambaran kelegaan para relawan setelah berbulan-bulan berjibaku memadamkan kebakaran lahan dan menghadapi asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Hujan yang turun selama sekitar 16 menit itu disertai angin kencang. Guyuran air yang membasahi wilayah Martapura menjadi harapan baru bagi warga dan petugas agar kebakaran lahan segera mereda.
Hujan juga dilaporkan mengguyur Banjarbaru dan Kotabaru. Namun, sejumlah wilayah lainnya masih diselimuti kabut asap sehingga upaya penanganan karhutla tetap diperlukan.
Turunnya hujan di Kalimantan Selatan disebut berkaitan dengan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang digencarkan Lanud Sjamsudin Noor bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak 10 Oktober.
Sementara itu, hujan berintensitas tinggi juga membasahi sejumlah kawasan permukiman di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, termasuk Jalan Rajawali.
Hujan tersebut membawa dampak positif terhadap kondisi udara. Kabut asap sisa kebakaran yang selama berbulan-bulan mengganggu kehidupan warga dilaporkan mulai menipis.
Meski demikian, warga dan petugas penanggulangan karhutla berharap hujan terus turun dengan intensitas memadai agar titik-titik api yang masih tersisa dapat dipadamkan sepenuhnya.
Bagi para relawan, hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Setelah berbulan-bulan menghadapi panas, asap, dan ancaman kebakaran, turunnya air dari langit menjadi sumber harapan agar perjuangan memulihkan lingkungan dan menjaga kesehatan masyarakat segera membuahkan hasil.***





