Fajarasia.id — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia melalui pengadaan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru. Mulai dari jet tempur Rafale, pesawat angkut A400M Atlas, hingga kapal perang dan kendaraan tempur amfibi, penguatan dilakukan untuk meningkatkan kesiapan TNI di berbagai medan operasi.
Pengadaan alutsista tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan militer yang mampu menjawab tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah yang luas. Selain menjaga kedaulatan, sejumlah alutsista juga dirancang mendukung misi kemanusiaan dan penanganan bencana.
Presiden Prabowo menegaskan, penguatan TNI tidak hanya ditujukan untuk menjaga wilayah negara, tetapi juga membantu masyarakat ketika menghadapi kesulitan.
“TNI adalah alat negara yang sangat besar peranannya dalam menghadapi bencana, menghadapi kesulitan, menghadapi masalah-masalah kepentingan masyarakat. Jadi saya kira ini akan menambah kemampuan kita. Wilayah kita sangat besar, sebesar Eropa, kemudian sekian belas ribu pulau. Udara bagi kita sangat-sangat menentukan,” ujar Prabowo, Selasa (20/10/2026).
Ia menambahkan, pembangunan kekuatan militer harus diarahkan agar TNI semakin efektif menjalankan tugas pertahanan sekaligus mendukung pembangunan nasional.
“Dan yang sangat penting, semua TNI sekarang kita bangun untuk menjadi lebih efektif, tidak hanya menjaga wilayah, tapi juga mengamankan dan mendukung pembangunan nasional,” katanya.
Di matra laut, TNI Angkatan Laut mendapat tambahan kekuatan melalui dua fregat buatan Italia, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321. Kedua kapal produksi Fincantieri tersebut memperkuat Koarmada II di Surabaya untuk mendukung pengamanan wilayah perairan Indonesia.
Selain fregat, TNI AL juga menerima KRI Belati, kapal cepat rudal yang diproduksi di dalam negeri. Kapal ini dapat digunakan untuk patroli maupun operasi tempur sesuai kebutuhan.
Indonesia juga menerima KRI Sriwijaya-100, kapal eks Angkatan Laut Italia yang diperoleh melalui hibah dan secara resmi diterima pada 24 September 2026.
Kapal sepanjang 180,2 meter itu memiliki dek penerbangan yang dapat menampung sejumlah helikopter dan pesawat nirawak. Kapal tersebut dilaporkan mampu mencapai kecepatan sekitar 30 knot.
Kehadiran berbagai kapal ini diharapkan memperkuat kemampuan operasi TNI AL dalam menjaga wilayah laut Indonesia yang membentang dari barat hingga timur Nusantara.
Penguatan juga berlangsung di TNI Angkatan Udara. Dua pesawat angkut Airbus A400M Atlas telah diterima dalam dua tahap, yakni November 2025 dan Maret 2026.
Pesawat tersebut mampu mengangkut hingga 116 personel bersenjata lengkap, kendaraan, serta perlengkapan militer berukuran besar. Kapasitas angkutnya juga dapat dimanfaatkan untuk mengirim bantuan dan logistik ke wilayah terdampak bencana yang sulit dijangkau.
Sementara itu, jet tempur Rafale buatan Dassault Aviation, Prancis, mulai tiba di Indonesia pada 2026. Dari total 42 unit yang dipesan, enam pesawat dilaporkan telah berada di Indonesia dan ditempatkan di Skadron Udara 12, Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
Rafale memiliki kecepatan maksimum Mach 1,8 dan kapasitas membawa persenjataan hingga 9.500 kilogram. Pesawat ini diharapkan menambah kemampuan TNI AU dalam menjalankan misi pertahanan dan menjaga ruang udara nasional.
Selain pesawat angkut dan jet tempur, Indonesia juga menerima empat unit Dassault Falcon 8X untuk mendukung mobilitas udara jarak jauh. Pesawat berkapasitas 13–16 penumpang tersebut memiliki jangkauan terbang hingga 11.945 kilometer.
TNI juga memperoleh tambahan delapan helikopter H225M Caracal dan dua helikopter H225T VVIP untuk menunjang kebutuhan angkut taktis dan transportasi khusus.
Di lingkungan TNI Angkatan Darat, dua helikopter Mi-35M buatan Rusia diterima pada pertengahan 2026 dan mulai beroperasi di Pusat Penerbangan Angkatan Darat, Semarang, pada awal September.
Meski memiliki kemampuan tempur, helikopter tersebut direncanakan turut mendukung pengiriman logistik ke wilayah Papua yang memiliki tantangan geografis dan keterbatasan akses transportasi.
Sementara itu, Korps Marinir TNI AL menerima 12 kendaraan tempur amfibi AAV-M35 buatan Amerika Serikat pada September 2026.
Kendaraan ini dapat bergerak di darat maupun air dan membawa hingga 24 personel. Dengan mesin berkekuatan 525 tenaga kuda, AAV-M35 dilaporkan mampu melaju hingga 75 kilometer per jam di darat dan 15 kilometer per jam di air.
Kendaraan tersebut juga dilengkapi senapan mesin kaliber 12,7 milimeter serta pelontar granat otomatis 40 milimeter untuk mendukung operasi tempur.
Deretan pengadaan tersebut menunjukkan upaya pemerintah memperkuat kemampuan TNI di matra darat, laut, dan udara. Namun, penambahan alutsista juga perlu diikuti kesiapan personel, pemeliharaan, ketersediaan suku cadang, serta integrasi sistem persenjataan agar kemampuan operasional dapat dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, penggunaan pesawat angkut, helikopter, dan kapal untuk misi kemanusiaan memperlihatkan bahwa kemampuan militer juga dapat mendukung respons terhadap bencana dan kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil.
Bagi Prabowo, pembangunan kekuatan pertahanan harus berorientasi pada efektivitas pelaksanaan tugas negara. Dengan wilayah Indonesia yang luas dan terdiri atas ribuan pulau, kesiapan alutsista menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kedaulatan sekaligus mendukung kepentingan nasional.
Penguatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan jumlah persenjataan, tetapi juga menghasilkan kemampuan pertahanan yang terukur, terpelihara, dan siap digunakan ketika negara menghadapi ancaman maupun keadaan darurat.****





