China Batasi Teknologi Panel Surya, Tesla Terancam

China Batasi Teknologi Panel Surya, Tesla Terancam

Fajarasia.id  — China mengusulkan pembatasan ekspor 12 teknologi yang digunakan dalam produksi panel surya. Kebijakan ini berpotensi menghambat ambisi perusahaan Amerika Serikat (AS), termasuk Tesla milik Elon Musk, untuk memperluas kapasitas manufaktur energi surya di dalam negeri.

Usulan tersebut menjadi bagian dari revisi daftar pengendalian ekspor China yang lebih luas, mencakup teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan bioteknologi. Beijing beralasan, pengawasan diperlukan untuk melindungi keamanan nasional di tengah semakin luasnya pemanfaatan teknologi surya pada sektor strategis.

Kementerian Perdagangan China menyatakan, teknologi manufaktur panel surya kini memiliki keterkaitan dengan bidang sensitif, termasuk kedirgantaraan dan pertahanan nasional.

“Pembatasan ekspor bertujuan untuk menjaga risiko teknologi agar tidak lepas kendali atau disebarluaskan secara tidak semestinya, sekaligus melindungi pertukaran dan kerja sama internasional yang normal di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,” demikian pernyataan kementerian tersebut, dikutip dari Reuters, Rabu (21/10/2026).

Rencana pembatasan ini berpotensi memengaruhi perusahaan AS yang mengandalkan teknologi manufaktur dari China untuk membangun industri panel surya. Salah satunya Tesla, yang tengah berupaya memperluas bisnis energi surya di Amerika Serikat.

Reuters sebelumnya melaporkan pada April 2026 bahwa pejabat China telah melakukan pembicaraan awal dengan sejumlah produsen mengenai kemungkinan pembatasan teknologi manufaktur panel surya canggih.

Jika kebijakan tersebut diberlakukan, perusahaan yang membutuhkan teknologi produksi dari China berpotensi menghadapi kendala dalam mengembangkan kapasitas manufaktur. Namun, besarnya dampak terhadap Tesla akan bergantung pada teknologi yang akhirnya masuk dalam daftar pembatasan dan ketergantungan perusahaan terhadap teknologi tersebut.

Langkah Beijing juga sejalan dengan kebijakan pengendalian teknologi yang sebelumnya diterapkan terhadap India. China telah membatasi ekspor teknologi manufaktur panel surya ke negara tersebut ketika New Delhi berupaya memperkuat produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada produk China.

Sejumlah analis menilai pembatasan semacam ini dapat membantu China mempertahankan posisinya dalam rantai pasok industri tenaga surya global.

Dalam usulan terbaru, China berencana melarang ekspor sejumlah teknologi manufaktur panel surya, termasuk teknologi produksi wafer tipis tertentu, sel surya perovskit dan tandem, serta teknologi pembuatan polisilikon skala besar dengan metode fluidized-bed.

Perovskit merupakan material yang berpotensi meningkatkan efisiensi konversi energi matahari menjadi listrik. Sementara itu, sel surya tandem menggabungkan dua atau lebih lapisan penyerap cahaya, seperti perovskit dan silikon, untuk menangkap spektrum sinar matahari secara lebih luas.

Adapun teknologi fluidized-bed digunakan dalam produksi polisilikon, salah satu bahan utama pembuatan panel surya. Metode ini berpotensi menggunakan energi dan biaya lebih rendah dibandingkan metode Siemens yang selama ini banyak digunakan industri.

Selain larangan terhadap teknologi tertentu, Beijing juga mengusulkan pembatasan ekspor teknologi manufaktur sel surya canggih lainnya. Teknologi yang masuk dalam kategori tersebut meliputi TOPCon, HJT, dan XBC.

Ketiga teknologi itu digunakan untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi sel surya. Pembatasan akses terhadap teknologi tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi negara yang tengah membangun industri panel surya sendiri.

Rencana China memperlihatkan bahwa persaingan industri energi bersih tidak hanya berkaitan dengan kapasitas produksi dan harga produk, tetapi juga penguasaan teknologi serta akses terhadap rantai pasok global.

Bagi Amerika Serikat, pengembangan manufaktur panel surya domestik merupakan bagian dari upaya memperkuat industri energi dan mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri. Namun, pembatasan teknologi dari China berpotensi menambah tantangan bagi perusahaan yang ingin mempercepat ekspansi.

Meski demikian, usulan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa Tesla akan menghentikan atau menunda rencana produksinya. Dampak akhirnya akan bergantung pada ketentuan yang disahkan, cakupan teknologi yang dibatasi, serta kemampuan perusahaan mencari alternatif teknologi dan pemasok.

Dengan posisi China yang penting dalam industri manufaktur panel surya, kebijakan ekspor Beijing berpotensi memengaruhi persaingan energi bersih di tingkat global.****

Pos terkait