Fajarasia.id — Teka-teki benda logam berukuran besar yang ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai terungkap. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menduga kuat benda tersebut merupakan bagian dari sampah antariksa bekas roket ZhuQue-2E asal China.
Dugaan itu didasarkan pada analisis lintasan orbit yang menunjukkan bekas roket tersebut melintasi wilayah Kalimantan sebelum memasuki kembali atmosfer Bumi pada Minggu (18/10/2026).
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa timnya menelusuri data orbit benda antariksa yang diperkirakan melintas di kawasan tersebut pada waktu kejadian.
Menurut Thomas, warga sebelumnya melaporkan mendengar suara gemuruh dari langit pada Minggu sekitar pukul 17.30 WIB. Keesokan harinya, pekerja perkebunan menemukan kepingan logam berukuran besar dalam kondisi terkoyak.
Berdasarkan penelusuran data orbit, bekas roket ZhuQue-2E bergerak dari arah utara ke selatan melintasi wilayah Kalimantan pada hari yang sama. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit.
“Berdasarkan data orbit yang kami telusuri, bekas roket ZhuQue-2E melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada 18 Oktober 2026. Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada di sekitar Sampit,” kata Thomas dalam keterangan resmi, Rabu (21/10/2026).
“Waktu ini sesuai dengan laporan warga yang mendengar suara gemuruh pada sore hari tersebut,” imbuhnya.
Thomas mengatakan, kesesuaian waktu antara lintasan orbit dan laporan warga menjadi petunjuk penting untuk mengidentifikasi asal benda logam tersebut.
“Keselarasan antara waktu lintasan dan laporan warga menjadi dasar kuat untuk menduga bahwa benda yang ditemukan di Sampit merupakan bagian dari sampah antariksa ZhuQue-2E,” ungkapnya.
Meski demikian, pemeriksaan fisik tetap diperlukan untuk memastikan identitas komponen tersebut, termasuk mencocokkan bentuk, material, dan penanda yang terdapat pada benda dengan data teknis roket.
ZhuQue-2E merupakan roket peluncur satelit yang dikembangkan perusahaan antariksa komersial China, LandSpace. Roket ini menggunakan kombinasi bahan bakar metana cair dan oksigen cair, yang dikenal sebagai teknologi methalox.
Roket tersebut memiliki dua tingkat dan dikembangkan untuk membawa satelit ke orbit rendah Bumi maupun orbit sinkron Matahari.
Berdasarkan informasi peluncuran yang dipublikasikan Xinhua, ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari fasilitas peluncuran Dongfeng, China, pada 14 Oktober 2026 dengan membawa 10 satelit. Misi tersebut dilaporkan berhasil setelah seluruh satelit ditempatkan pada orbit yang ditentukan.
Namun, keberhasilan peluncuran tidak berarti seluruh bagian roket akan terus berada di antariksa. Bagian roket yang sudah tidak digunakan dapat tetap mengorbit untuk sementara waktu sebelum ketinggiannya berkurang akibat hambatan atmosfer.
Dalam kasus ini, badan roket yang diduga berkaitan dengan serpihan di Sampit tercatat memiliki nomor identifikasi NORAD 101070 dan kode internasional 2026-234L.
Thomas menjelaskan, sampah antariksa merupakan benda buatan manusia yang sudah tidak lagi menjalankan fungsinya di ruang angkasa. Benda tersebut dapat berupa satelit yang tidak aktif, bagian roket, maupun pecahan komponen wahana antariksa.
Ketika memasuki kembali atmosfer Bumi, benda-benda tersebut mengalami pemanasan ekstrem akibat interaksi dengan udara pada kecepatan sangat tinggi. Sebagian besar material dapat terbakar, meleleh, atau pecah menjadi bagian-bagian lebih kecil.
“Proses tersebut terkadang menghasilkan cahaya terang yang dapat terlihat dari permukaan Bumi, bahkan disertai suara dentuman atau gemuruh ketika terjadi gelombang kejut di atmosfer,” ujar Thomas.
Meski demikian, tidak seluruh material selalu habis terbakar. Komponen tertentu yang memiliki ketahanan panas lebih tinggi dapat bertahan saat melewati atmosfer dan akhirnya mencapai permukaan Bumi.
“Fenomena inilah yang menjadi salah satu kemungkinan penjelasan terhadap ditemukannya kepingan logam berukuran besar di perkebunan sawit Sampit,” katanya.
Temuan di Sampit menjadi pengingat bahwa aktivitas antariksa dapat menimbulkan persoalan sampah orbit yang berpotensi berdampak hingga ke permukaan Bumi. Untuk memastikan asal benda tersebut, hasil analisis orbit masih perlu diperkuat dengan pemeriksaan langsung terhadap material yang ditemukan warga.*****





