Fajarasia.id — Eskalasi konflik di Semenanjung Arab mencapai babak baru yang kian mengkhawatirkan. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan serangan udara masif yang menghantam fasilitas vital di Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi mengonfirmasi bahwa tiga warga negaranya tewas dalam insiden yang terjadi pada Kamis (8/10). Salah satu korban jiwa merupakan pilot maskapai nasional Saudia Airlines, Kapten Hamoud Ali Alkalthami.
Selain korban jiwa, serangan tersebut juga menimbulkan kerusakan material yang signifikan, termasuk hancurnya satu unit pesawat komersial milik Saudia Airlines yang berada di area bandara.
“Operasional bandara telah dilanjutkan kembali dan lalu lintas udara kini kembali normal,” demikian pernyataan resmi Otoritas Penerbangan Sipil Saudi, Sabtu (10/10/2026).
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya bertanggung jawab atas serangan tersebut. Menurutnya, pasukan Houthi meluncurkan dua rudal jelajah ke bandara di Riyadh, satu rudal ke bandara di Najran, serta menyasar pangkalan udara di Khamis Mushait menggunakan rudal balistik.
Serangan ini dilancarkan sebagai bentuk balasan atas dukungan militer yang diberikan Riyadh kepada pasukan pemerintah Yaman di tengah pecahnya kembali pertempuran sejak Juli lalu. Operasi “Fajar Yaman” yang diluncurkan pasukan pemerintah untuk merebut kembali wilayah kekuasaan Houthi telah memicu aksi saling serang udara.
Dampak serangan juga meluas di luar area bandara. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi melaporkan bahwa pecahan rudal yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara jatuh di kawasan pemukiman di Riyadh. Insiden itu merusak sebuah kompleks taman kanak-kanak dan klinik medis.
Di tengah situasi yang kian meruncing, Houthi mengeluarkan peringatan terbuka kepada Pakistan dan Turki agar tidak ikut campur dalam operasi militer pimpinan Saudi.
Peringatan tersebut disampaikan menyusul langkah kedua negara yang mulai mengimplementasikan Pakta Pertahanan Mekkah—perjanjian keamanan trilateral yang diteken Saudi, Pakistan, dan Turki pada Agustus lalu untuk mengerahkan aset militer demi memperkuat pertahanan kerajaan.
Memanasnya situasi di perbatasan dan jantung kota Saudi ini dikhawatirkan mengancam upaya deeskalasi kawasan, sekaligus menyeret konflik Yaman ke dalam dimensi geopolitik yang lebih luas.****





