RI Bidik Data Center Global, Bahlil Tawarkan Listrik Melimpah

RI Bidik Data Center Global, Bahlil Tawarkan Listrik Melimpah

Fajarasia.id  – Pemerintah mengajak investor menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama pembangunan pusat data atau data center di kawasan Asia. Modal yang ditawarkan bukan hanya pasar digital yang besar, tetapi juga pasokan energi yang dinilai melimpah dan berkelanjutan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kebutuhan energi untuk mendukung industri digital, termasuk pusat data, terus meningkat di berbagai negara. Di saat sejumlah negara mulai menghadapi tekanan pasokan energi, Indonesia justru memiliki potensi besar yang masih bisa dimanfaatkan.

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki sumber energi yang beragam, mulai dari tenaga surya, tenaga air, panas bumi, hingga angin. Kondisi tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi investor yang membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

“Tidak perlu ragu membangun data center di Indonesia,” kata Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, Rabu (23/9/2026).

Salah satu potensi yang disorot pemerintah adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Papua dan Kalimantan. Sungai Mamberamo di Papua diperkirakan memiliki potensi energi sekitar 23 gigawatt (GW), sementara Sungai Kayan di Kalimantan mencapai sekitar 12 GW.

Potensi tersebut dinilai mampu menjadi sumber energi strategis untuk menopang kebutuhan pusat data yang terus berkembang, terutama di tengah tren penggunaan energi hijau oleh perusahaan-perusahaan teknologi global.

Bahlil menilai ketersediaan energi bersih kini menjadi faktor penting dalam pengembangan industri data center. Banyak perusahaan teknologi dunia mulai menempatkan aspek keberlanjutan sebagai syarat utama dalam memilih lokasi investasi.

Karena itu, pemerintah berupaya mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) guna mendukung kebutuhan industri sekaligus mengejar target net zero emission pada periode 2050-2060.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program strategis. Salah satunya melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen direncanakan berasal dari energi baru terbarukan.

Selain itu, pemerintah juga tengah menjalankan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW yang ditargetkan selesai dalam tiga tahun mendatang.

Bahlil menegaskan berbagai target tersebut bukan sekadar wacana, melainkan telah diterjemahkan ke dalam program yang sedang dijalankan pemerintah.

Dengan kombinasi sumber energi yang melimpah, pasar digital yang terus berkembang, serta komitmen terhadap energi bersih, Indonesia berupaya memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi investasi data center yang kompetitif di tingkat global.***

 

Pos terkait