Yoweri Museveni Menang Pilpres Uganda untuk Ketujuh Kalinya

Yoweri Museveni Menang Pilpres Uganda untuk Ketujuh Kalinya

Fajarasia.id  – Presiden Uganda, Yoweri Kaguta Museveni, kembali mencatatkan kemenangan dalam pemilihan umum, memperpanjang masa jabatannya untuk ketujuh kali sejak pertama kali berkuasa pada 1986. Komisi Pemilihan Umum Uganda mengumumkan Museveni meraih 71,65 persen suara dalam pemilu yang digelar Kamis (15/1).

Kemenangan Museveni, yang kini berusia 81 tahun, diumumkan di tengah laporan adanya intimidasi, penangkapan, hingga korban jiwa selama proses pemilu. Meski demikian, hasil ini memastikan mantan pejuang gerilya tersebut memperpanjang kekuasaannya hingga empat dekade di negara Afrika Timur itu.

Museveni mengalahkan pesaing utamanya, Bobi Wine (43), mantan penyanyi yang kini menjadi tokoh oposisi. Wine, yang dikenal sebagai “presiden ghetto” karena latar belakangnya dari kawasan kumuh Kampala, meraih 24,72 persen suara. Ia menolak hasil pemilu, menyebutnya penuh kecurangan, dan mengaku menghadapi tekanan besar termasuk penggerebekan aparat di rumahnya.

Wine menulis di platform X bahwa dirinya berusaha tetap aman di tengah ancaman penangkapan. Sementara itu, polisi Uganda membantah tuduhan penggerebekan, namun mengakui adanya pengerahan pasukan di sekitar kediaman Wine untuk mencegah potensi kerusuhan.

Di ibu kota Kampala, aparat keamanan dikerahkan secara besar-besaran untuk mengantisipasi protes. Sebagian warga masih mendukung Museveni, mengingat perannya mengakhiri kekacauan pasca-kemerdekaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pengamat Afrika menyoroti adanya intimidasi dan penculikan yang menargetkan oposisi serta masyarakat sipil.

“Pemilu ini berlangsung di bawah bayang-bayang rasa takut,” ujar salah satu pengamat regional. Meski tidak menemukan bukti kecurangan penghitungan suara, mereka mengecam praktik represif yang terjadi selama proses pemilu.

Profil Museveni

Museveni lahir pada 1944 dan aktif dalam politik sejak masa sekolah. Ia memimpin gerakan gerilya National Resistance Army (NRA) yang berhasil merebut Kampala pada Januari 1986. Sejak itu, ia membentuk pemerintahan baru dan menjadi presiden Uganda.

Selama masa pemerintahannya, Uganda sempat mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata lebih dari 6 persen per tahun dan berhasil menekan angka HIV melalui kampanye anti-AIDS. Namun, reputasinya tercoreng akibat keterlibatan dalam konflik di Republik Demokratik Kongo pada 1998 serta tudingan semakin otoriter.

Konstitusi Uganda yang semula membatasi masa jabatan presiden diubah pada 2005, dan batas usia calon presiden dihapus pada 2017. Langkah ini membuka jalan bagi Museveni untuk terus mencalonkan diri tanpa hambatan hukum.

Dengan kemenangan ketujuhnya, Museveni memperkuat dominasi partai National Resistance Movement (NRM) di parlemen. Namun, kritik terhadap gaya kepemimpinannya yang semakin tidak toleran terhadap oposisi terus bergema.

Kemenangan ini menegaskan posisi Museveni sebagai salah satu pemimpin terlama di Afrika, sekaligus membuka babak baru bagi Uganda yang masih diwarnai tantangan demokrasi, ekonomi, dan hak asasi manusia.

Pos terkait