Fajarasia.id – Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) menyoroti masifnya pertumbuhan ritel modern yang diklaim menjadi penyebab toko kelontong rakyat bertumbangan. Ketua Umum APKLI, Ali Mahsun Atmo, pada Sabtu (28/2/2026) menyebut satu gerai ritel modern bisa mematikan 20 hingga 50 warung kelontong.
Menurut Ali, sejak masuknya ritel modern pasca Letter of Intent IMF 1998, toko kelontong dan pasar tradisional terus tergerus. Data APKLI menunjukkan jumlah warung kelontong turun drastis dari 6,1 juta pada 2015 menjadi 3,9 juta di 2025. Bahkan, sekitar 3.500 pasar tradisional sudah tutup.
Selain ekspansi ritel modern, lesunya daya beli masyarakat dan dampak ekonomi digital juga disebut memperburuk kondisi. Banyak konsumen kini beralih ke marketplace, membuat pasar tradisional semakin sepi.
Ali menegaskan, jika tidak segera diantisipasi, dampaknya bisa meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan. APKLI pun meminta pemerintah mengevaluasi Perpres Nomor 112 Tahun 2007 tentang Pasar Tradisional dan Toko Modern, serta kebijakan 2015 yang memperlonggar izin ritel modern.***






