Trump Pertimbangkan Caplok Greenland, Denmark dan NATO Bereaksi Keras

Trump Pertimbangkan Caplok Greenland, Denmark dan NATO Bereaksi Keras

Fajarasia.id  – Dunia kembali diguncang oleh pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia disebut serius mempertimbangkan opsi untuk mengakuisisi Greenland, bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer demi mewujudkan ambisi tersebut.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa rencana akuisisi Greenland dianggap sebagai prioritas keamanan nasional AS. “Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa mengakuisisi Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, dan sangat penting untuk mencegah musuh kita di wilayah Arktik,” ujarnya dalam pernyataan resmi.

Leavitt menambahkan bahwa Trump dan timnya masih membahas berbagai opsi untuk mencapai tujuan itu. “Penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima tertinggi,” katanya, menegaskan bahwa langkah ekstrem tetap ada di atas meja.

Pernyataan Trump langsung memicu kecaman keras dari Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen. Ia menegaskan bahwa pencaplokan Greenland akan menghancurkan fondasi NATO. “Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir. Artinya, itu termasuk NATO kita dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak akhir Perang Dunia Kedua,” tegas Frederiksen kepada TV2 Denmark.

Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, turut mengecam wacana tersebut. Ia memperingatkan bahwa langkah AS akan membawa konsekuensi parah bagi stabilitas kawasan Arktik.

Isu ini muncul tak lama setelah operasi militer AS di Caracas, Venezuela, yang berhasil menangkap Nicolás Maduro dan istrinya. Aksi tersebut mengejutkan dunia dan meningkatkan kekhawatiran di Eropa, terutama Denmark dan Greenland yang merupakan bagian dari NATO.

Trump sendiri sudah berulang kali menyerukan agar Greenland berada di bawah yurisdiksi AS, bahkan sejak masa transisi kepresidenannya. Kini, dengan opsi militer yang tidak disingkirkan, ketegangan geopolitik di Arktik semakin memanas.

Pos terkait