Fajarasia.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak China untuk ikut membantu membuka kembali jalur vital Selat Hormuz yang ditutup Iran. Tuntutan ini muncul dua pekan sebelum pertemuan penting Trump dengan Presiden Xi Jinping di Beijing, akhir Maret 2026. Trump bahkan mengancam menunda KTT tersebut jika Beijing tidak memberikan jawaban jelas.
Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump menegaskan bahwa negara-negara yang diuntungkan dari jalur Hormuz, termasuk Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, harus ikut bertanggung jawab menjaga keamanan pelayaran. “Saya pikir China juga harus membantu,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi global. Jalur ini merupakan rute utama pengiriman seperlima pasokan minyak dunia. Konflik semakin memanas setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, yang dibalas dengan serangan Iran ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
China sendiri dipandang memiliki insentif kecil untuk memenuhi tuntutan Trump. Beijing telah memperkuat cadangan minyak, mendiversifikasi impor, dan berinvestasi besar dalam energi bersih. Media resmi China menyerukan kolaborasi lebih besar dengan AS, namun menolak ide mengirim kapal perang ke Hormuz. “Apakah ini soal berbagi tanggung jawab atau berbagi risiko dari perang yang Washington mulai?” tulis Global Times.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China menegaskan pentingnya pertemuan mendatang antara kedua kepala negara. “Diplomasi antar kepala negara memainkan peran tak tergantikan dalam memberikan arahan strategis bagi hubungan China–AS,” ujar juru bicara Lin Jian.***




