Fajarasia.id — Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, menilai pembangunan fasilitas produksi baterai kendaraan listrik (EV) yang digarap Mind Id Group menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi.
Menurutnya, langkah ini akan memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil.
“Saya pikir ini merupakan game changer bagi Indonesia. Momentum bahwa kita akan melakukan akselerasi transisi energi dari bahan bakar fosil menuju electric vehicle berbasis storage baterai,” ujar Sari saat dihubungi wartawan, Selasa (7/4/2026).
Legislator dari Fraksi Golkar itu menyebut pembangunan pabrik baterai menjadi pintu masuk bagi pemerintah dalam mengembangkan ekosistem EV. Ia bahkan antusias menunggu rampungnya proyek yang diproyeksikan selesai pada September–Oktober 2026.
“Ini proyek Dragon, kerja sama antara Mind Id dengan CATL, Brunp, dan Lygend,” katanya.
Sari menilai pembangunan fasilitas tersebut merupakan langkah maju bagi transisi energi di Tanah Air. Pada tahap awal, pabrik baterai dirancang memiliki kapasitas 6,9 GWh, yang kemudian ditingkatkan menjadi 15 GWh pada fase kedua.
“Itu cukup besar sehingga bisa langsung terkait dengan pengembangan industri EV,” ujarnya.
Di sisi lain, Sari menekankan bahwa tantangan global seperti konflik geopolitik dan geoekonomi turut memengaruhi harga minyak dan gas. “Kondisi ini bukan hanya persoalan Indonesia, tetapi dialami semua negara dengan bobot masing-masing,” tegasnya.
Sebelumnya, Mind Id melalui perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) memulai pembangunan fasilitas produksi baterai di kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat. Fasilitas ini mencakup produksi battery cells, module, dan pack, serta menjadi bagian penting dalam memperkuat fondasi industri baterai di dalam negeri.****





