Fajarasia.id – Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sore ini naik 15 poin (0,10 persen) menjadi Rp15.704 per dolar AS.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan, sejumlah faktor eskternal mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Salah satunya data ekonomi Amerika Serikat berupa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Januari yang menurun.
“Penurunan ini mendorong ekspektasi bahwa inflasi di AS juga akan turun dalam beberapa bulan mendatang. Sehingga memberikan dorongan yang cukup bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga pada bulan Juni,” kata Ibrahim, Jumat (1/3/2024).
Tetapi Ibrahim melihat alat pengukur ekspektasi suku bunga CME Fedwatch Tool menunjukkan fakta berbeda. Pelaku pasar menaikkan hanya sedikit ekspektasinya terhadap penurunan suku bunga.
Faktor lainnya yang mempengaruhi posisi rupiah sore ini adalah data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Tiongkok. Indeksnya terus menyusut selama lima bulan berturut-turut.
“Namun pelemahan indeks PMI, diimbangi dengan perbaikan kinerja non-manufaktur yang didorong peningkatan konsumsi masyarakat selama libur Imlek. Meskipun kinerja non-manufaktur kemungkinan akan menurun dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim.
Perusahaan manufaktur terbesar Tiongkok masih berada di bawah tekanan akibat lemahnya permintaan lokal dan luar negeri. Sehingga data PMI manufakturnya masih melemah.
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulan Februari 2024 sebesar 0,37 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan menjadi 105,58 dibandingkan bulan sebelumnya.
Inflasi bulanan Februari 2024 lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dengan penyumbang inflasi terbesar kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok pengeluaran ini mengalami inflasi sebesar satu persen secara bulanan, dengan andil inflasi 0,29 persen.
Komoditas penyumbang inflasi terbesar bulan Februari adalah beras, cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Adapun komoditas yang memberikan andil deflasi adalah bawang merah, tomat, serta cabai rawit.
Dengan demikian tingkat inflasi tahunan bulan Februari 2024 tercatat 2,75 persen. Sedangkan tingkat inflasi tahun kalender (Februari 2024 terhadap Desember 2023) sebesar 0,41 persen.****





