Rakyat Geram, Wamen ATR Jelaskan Pergeseran Batas RI-Malaysia di Pulau Sebatik

Rakyat Geram, Wamen ATR Jelaskan Pergeseran Batas RI-Malaysia di Pulau Sebatik

Fajarasia.id – Polemik pergeseran patok batas negara kembali mencuat. Kali ini terjadi di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara, dan memicu kemarahan publik. Ramai di media sosial, masyarakat menilai Malaysia mencaplok tanah Indonesia. Menanggapi riak tersebut, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/BPN RI, Ossy Dermawan, memberikan penjelasan resmi terkait hasil kesepakatan dalam forum Joint Indonesia-Malaysia Boundary Committee.

“Memang betul ada sekitar 23 kilometer segmen yang bergeser. Ada tanah kita yang berkurang, ada juga yang bertambah,” kata Ossy dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR RI di Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Ossy menegaskan, dari hasil MoU Outstanding Boundary Problem (OPB) Pulau Sebatik, Indonesia justru memperoleh tambahan hak atas 127 hektare wilayah, sementara Malaysia hanya mendapat 4,9 hektare.

Namun, ia mengakui ada 3,6 hektare desa di Sebatik yang terdampak akibat perubahan garis batas. Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) kemudian menyiapkan zona penyangga sepanjang 10 meter, sehingga total lahan yang masuk ke Malaysia menjadi 6,1 hektare.

Puluhan warga disebut ikut terimbas dari pergeseran batas ini. “Ada 19 pemegang sertifikat, satu orang dengan dokumen lain, 26 dokumen desa, dan lima akta di bawah tangan,” jelas Ossy.

Ia memastikan pemerintah akan menjamin hak warga melalui proses relokasi. “Legalitas hak atas tanah harus dipastikan. Kami bekerja sama dengan kantor pertanahan, kanwil, pemda, dan BNPP untuk melakukan identifikasi serta verifikasi. Ke depan, relokasi akan dilakukan agar hak masyarakat tetap terjaga,” imbuhnya.

Meski protes masyarakat terus bergulir, pemerintah menegaskan bahwa kesepakatan batas wilayah ini tidak merugikan Indonesia secara keseluruhan. Dengan tambahan 127 hektare, posisi Indonesia dinilai tetap kuat, sementara hak warga yang terdampak akan dipulihkan melalui mekanisme resmi.

Pulau Sebatik pun kembali menjadi sorotan, bukan hanya sebagai wilayah perbatasan strategis, tetapi juga sebagai simbol penting kedaulatan negara yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian.

Pos terkait