Fajarasa.id – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan penyusunan jaminan keamanan yang kredibel bagi Ukraina dalam pertemuan tertutup di Paris. Pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan dari lebih dari 30 negara sekutu, termasuk Inggris dan Turki, namun tanpa kehadiran Amerika Serikat.
Melansir dari Le Monde, Kamis (13/3/2025), seruan ini muncul di tengah negosiasi gencatan senjata selama satu bulan antara Ukraina dan Rusia di Jeddah. Macron ingin menggalang respons Eropa terhadap perubahan kebijakan AS terhadap Rusia dan Ukraina.
“Kini saatnya bagi Eropa untuk memberikan dukungan penuh bagi Ukraina, dan juga bagi dirinya sendiri,” kata Macron dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, jaminan keamanan yang kredibel diperlukan untuk memastikan perdamaian yang berkelanjutan di Ukraina.
Untuk menegakkan gencatan senjata di masa depan, Macron bekerja sama dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Para pemimpin militer Eropa dan NATO yang hadir sepakat bahwa jaminan keamanan harus terintegrasi dengan NATO dan kapabilitas pertahanannya.
Mereka juga menekankan bahwa jaminan tersebut harus bersifat kredibel, jangka panjang, dan disertai dengan dukungan penuh terhadap tentara Ukraina. Menteri Pertahanan Prancis Sébastien Lecornu menyatakan bahwa pertemuan ini bertujuan membahas masa depan militer Ukraina.
Ia menegaskan bahwa Prancis menolak segala bentuk demiliterisasi Ukraina dalam kesepakatan damai. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun menyatakan bahwa negaranya memiliki angkatan bersenjata terbesar di Eropa dengan lebih dari 800.000 tentara.
Setelah lebih dari tiga tahun perang, Eropa kini berupaya memperkuat pertahanan dan mengurangi ketergantungan pada AS. Lima negara militer utama Eropa, Prancis, Inggris, Jerman, Italia, dan Polandia dijadwalkan bertemu di Prancis untuk membahas rearmament Eropa.
Uni Eropa, NATO, dan Menteri Pertahanan Ukraina juga akan berpartisipasi dalam diskusi ini. Selain itu, Starmer dijadwalkan mengadakan pertemuan virtual dengan para pemimpin negara-negara pendukung gencatan senjata.
Macron menegaskan bahwa pasukan Eropa hanya akan dikerahkan ke Ukraina setelah perjanjian damai ditandatangani untuk memastikan implementasinya. Ia juga membuka kemungkinan membahas perluasan perlindungan nuklir Prancis bagi negara-negara Eropa.
Sementara itu, Turki, yang memiliki militer terbesar kedua di NATO setelah AS, berupaya memainkan peran penting dalam keamanan Eropa. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menyatakan dukungannya terhadap seruan Zelensky untuk gencatan senjata udara dan laut.
Pertemuan di Paris ini menjadi langkah penting dalam membentuk strategi keamanan jangka panjang bagi Ukraina dan kawasan Eropa. Jaminan keamanan yang sedang dirancang diharapkan dapat memperkuat posisi Ukraina dalam negosiasi damai dengan Rusia.****





