Perempuan Tangguh di Balik Hari Pahlawan: Lukitaningsih, Dariah, dan K’tut Tantri

Perempuan Tangguh di Balik Hari Pahlawan: Lukitaningsih, Dariah, dan K’tut Tantri

Faharasia.id – Peringatan Hari Pahlawan 10 November selalu identik dengan pertempuran heroik di Surabaya tahun 1945. Namun, di balik dentuman meriam dan kobaran semangat rakyat, terdapat sosok-sosok perempuan yang turut mengukir sejarah perjuangan. Mereka bukan sekadar saksi, melainkan pelaku yang terjun langsung ke garis depan, dari dapur umum hingga medan tempur.

Sayangnya, nama-nama perempuan tangguh ini masih jarang dikenal publik. Padahal, kiprah mereka memberi makna bahwa perjuangan kemerdekaan adalah kerja bersama antara laki-laki dan perempuan.

Lukitaningsih, Pemimpin Laskar Putri

Lukitaningsih dikenal sebagai pemimpin Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI) di Surabaya. Di masa revolusi, ia membentuk Laskar Putri yang beranggotakan ratusan remaja putri. Mereka mendirikan dapur umum, menolong pengungsi, hingga menjadi tenaga Palang Merah di tengah pertempuran.

Saat pertempuran besar 10 November meletus, Lukitaningsih bersama 50 anggota Laskar Putri langsung diterjunkan ke garis depan untuk mengevakuasi korban dan menguburkan jenazah. Sosoknya menjadi simbol keberanian perempuan muda Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Dariah, Pejuang Dapur Umum ‘Dar Mortir’

Nama Darijah Soerodikoesoemo atau Dariah dikenang karena keberaniannya mendirikan dapur umum di Gentengkali, Surabaya. Ia dijuluki “Dar Mortir” lantaran tetap bekerja di tengah dentuman peluru dan bom.

Setiap hari, ia menyiapkan sekitar 500 nasi bungkus untuk para pejuang. Bahkan, ketika persediaan menipis, Dariah rela menukar emas miliknya demi membeli bahan makanan. Kisah pengorbanannya kini diabadikan dalam diorama Museum 10 November Surabaya.

K’tut Tantri, ‘Soerabaja Sue’ dari Skotlandia

Muriel Stuart Walker atau K’tut Tantri adalah perempuan asal Skotlandia yang memilih berpihak pada perjuangan rakyat Indonesia. Bersama Bung Tomo, ia ikut menyaksikan langsung pertempuran Surabaya.

Melalui siaran radio “Voice of Free Indonesia”, ia menyebarkan pesan perjuangan ke dunia internasional dengan nama siaran “Soerabaja Sue”. Suaranya menembus blokade informasi dan mengabarkan semangat kemerdekaan ke berbagai negara.

Atas jasanya, pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Nararya pada 1998. Kisah hidupnya ia tuangkan dalam autobiografi Revolt in Paradise.

Inspirasi Generasi Muda

Ketiga sosok ini membuktikan bahwa cinta tanah air melampaui batas gender dan bangsa. Dari dapur umum hingga siaran radio, mereka hadir dengan keberanian, ketulusan, dan semangat kemanusiaan.

Hari Pahlawan menjadi momentum untuk mengenang jasa mereka sekaligus menginspirasi generasi muda agar terus meneladani semangat perjuangan.****

Pos terkait