fajarasia.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meluas dengan serangan militer, ancaman balasan, hingga keterlibatan kelompok milisi. Situasi ini tidak hanya memperburuk keamanan regional, tetapi juga mengguncang pasar energi global.
China menuding operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai pemicu terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sementara itu, Kedutaan Besar AS memperingatkan ancaman serangan milisi pro-Iran di Irak dalam 48 jam ke depan.
Ketegangan tersebut membuat harga minyak dunia melonjak tajam. Minyak mentah Brent naik hampir 7% ke US$108,15 per barel, sedangkan WTI menembus US$106,75 per barel. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global.
Iran sendiri berjanji akan melancarkan serangan besar terhadap AS dan Israel, sementara Hizbullah mengklaim telah meluncurkan drone dan roket ke wilayah utara Israel. Israel pun melaporkan kembali dihujani rudal dari Iran.
Di sisi lain, Uni Emirat Arab mengonfirmasi sistem pertahanan udaranya berhasil menangkis ancaman rudal dan drone. Australia menyoroti ketidakjelasan arah akhir operasi militer, sedangkan Presiden AS Donald Trump berjanji melanjutkan serangan hingga “pekerjaan selesai.”
Dengan eskalasi yang terus meningkat, dunia kini menghadapi ketidakpastian besar, terutama terkait stabilitas energi dan keamanan global.****





