Pengembangan Energi Baru Terbarukan Masih di Bawah Target

Pengembangan Energi Baru Terbarukan Masih di Bawah Target

Fajarasia.id – Perkembangan kapasitas energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih di bawah target yang direncanakan. Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebutkan kapasitas EBT tahun 2015-2021 hanya bertambah rata-rata 400 megawatt.

“Jumlah itu kurang dari seperlima dari pertumbuhan yang seharusnya untuk mencapai target 23 bauran EBT di tahun 2025. Energi terbarukan ternyata dalam tanda kutip dianaktirikan,” kata Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa dalam keterangannya, sabtu (25/3/2023).

Menurut Fabby, lambannya perkembangan EBT di Indonesia karena masih ada kompetisi tidak setara dengan energi fosil yang disubsidi. Ia mencontohkan PLTU Batubara yang masih ditopang kebijakan Domestik Market Obligation (DMO).

“Beberapa tahun terakhir kebijakan pengembangan energi, khususnya pembangkit listrik, dipengaruhi oleh kebijakan yang melindungi fluktuasi harga energi fosil,” ujar Fabby. Padahal, menurutnya, harga energi terbarukan selama satu dekade terakhir semakin turun dan kompetitif, termasuk harga pembangkit listriknya.

Harga pembangkit listrik tenaga surya, misalnya, sudah turun 90 persen. Begitu pula harga energi pembangkit listrik tenaga bayu atau angin turun 80 persen.

Perbedaannya sangat siginifikan dengan penggunaan energi fosil untuk pembangkit listrik. Harga energi fosil sangat dipengaruhi permintaan pasokan bahan baku, harga minyak, dan kondisi geopolitik.

“Perlu affirmative action untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan yang lebih optimal. Selain itu melakukan reformasi harga energi, dan mengubah pandangan bahwa energi fosil itu tidak semurah yang dibayangkan,” ucap Fabby.

Fabby mengatakan Indonesia punya waktu kurang dari tujuh tahun untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Transisi energi menggunakan energi terbarukan merupakan salah satu solusi mengurangi emisi karbon yang menjadi pemicu krisis iklim.

“Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, di antaranya potensi energi surya yang mencapai 3.600 hingga 20.000 ribu gigawatt. Potensi ini dapat dioptimalkan sekaligus meminimalkan dampak buruk perubahan iklim terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat,” katanya.****

Pos terkait