Pasar Tunggu Data Inflasi AS, Rupiah Ditutup Melemah

Pasar Tunggu Data Inflasi AS, Rupiah Ditutup Melemah

Fajarasia.id – Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan sore ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 46 poin (0,30 persen) di posisi Rp15.692 per dolar AS.

“Pasar sekarang menunggu angka inflasi dan data pertumbuhan ekonomi utama di Amerika Serikat sebagai isyarat perdagangan lebih lanjut. Data indeks harga belanja personal (PCE), alat pengukur inflasi pilihan The Fed baru akan dirilis pada hari Kamis,” kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu (28/2/2024).

Pelaku pasar, tambah Ibrahim, memperkirakan data indeks PCE akan menunjukkan inflasi tetap stabil di Januari 2024. Skenario seperti ini memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

“Minggu ini, beberapa pejabat The Fed juga memperingatkan tentang inflasi. Jika inflasi masih tinggi akan menghalangi The Fed menurunkan suku bunga di awal tahun 2024,” ucap Ibrahim.

Sebelum data inflasi dirilis, pembacaan kedua Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat akan dirilis pada hari Rabu di AS. Perkiraannya, perekonomian AS akan mengalami penurunan pertumbuhan.

“Namun perekonomian AS diperkirakan masih akan tetap unggul dibandingkan negara-negara maju lainnya. Kondisi ini juga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama,” ujar Ibrahim.

Di Asia, sambung Ibrahim, Tiongkok akan merilis data indeks manajer pembelian Tiongkok yang akan dirilis pada hari Jum’at. Data ini akan memberikan lebih banyak isyarat mengenai keadaan aktivitas bisnis di Tiongkok hingga Februari.

Sebelumnya data indeks manager pembelian di Tiongkok pada Januari, menunjukkan sedikit perbaikan pada perekonomian. Kondisinya bisa saja berbeda di bulan-bulan selanjutnya.

Dari dalam negeri, perekonomian di awal kuartal pertama 2024 menunjukkan outlook yang lebih optimistis di tengah pelemahan ekonomi global. Selain itu pemilihan presiden (Pilpres) juga terlaksana dengan damai.

Selain itu, Presiden Joko Widodo menyebut, ekonomi Indonesia terbaik di tengah ancaman krisis global. Bahkan Indonesia masuk ke dalam tiga negara G20 dengan kondisi pertumbuhan ekonomi yang baik.

Ekonomi Indonesia di 2023 tumbuh sebesar 5,05 persen. Sedangkan inflasi terkendali di angka 2,57 persen.

Meski demikian, Jokowi tetap meminta pemerintah dan masyarakat untuk hati-hati dan tetap waspada. Mengingat tantangan global semakin kompleks dan tidak jelas arahnya.****

Pos terkait