Fajarasia.id – Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal adanya “pembicaraan kuat” untuk mengakhiri perang dengan Iran menuai respons skeptis dari negara-negara Teluk. Qatar bahkan menegaskan tidak terlibat dalam upaya mediasi apapun, menandai pergeseran dari peran tradisionalnya sebagai penengah konflik regional.
Analis menilai sikap hati-hati negara Teluk mencerminkan pengalaman pahit sebelumnya, di mana upaya diplomasi justru berujung pada eskalasi militer. “Mereka sudah terbakar oleh pengalaman lalu, sehingga kini muncul rasa frustrasi dan ketidakpercayaan,” kata Bilal Saab, mantan pejabat Pentagon, sebagaimana dikutip redaksi pada Jumat (27/3/2026).
Iran sendiri menolak langsung rencana 15 poin yang diajukan Trump melalui Pakistan, menyebutnya “tidak masuk akal”. Sementara itu, serangan rudal dan drone Iran terus menghantam fasilitas energi di kawasan, memaksa negara Teluk mengeluarkan biaya besar untuk pertahanan.
Dalam pernyataan bersama terbaru, enam negara Teluk mengecam serangan Iran sebagai tindakan “kriminal” dan menegaskan hak penuh untuk membela diri sesuai Piagam PBB. Sikap keras ini menunjukkan perubahan nada dari sebelumnya yang lebih mendorong deeskalasi.
Ketidakpastian arah negosiasi membuat kawasan Teluk semakin waspada, khawatir klaim damai justru menjadi kedok bagi operasi militer baru.****






