Mengenang Sejarah Sisingamangaraja XII, Maharaja di Negeri Toba

Mengenang Sejarah Sisingamangaraja XII, Maharaja di Negeri Toba

Fajarasia.id – Apakah sahabat tahu bahwa Sisingamangaraja XII sempat terpampang pada uang kertas pecahan Rp 1.000? Kiprahnya melawan Belanda selama tiga dekade membuat kisah Sisingamangaraja XII menarik untuk disimak.

Memiliki nama kecil Patuan Bosar Sinambela, Sisingamangaraja XII naik takhta pada 1876 untuk menggantikan ayahnya. Sisingamangaraja XII yang pada waktu itu berumur 22 tahun memulai perjuangannya karena Belanda sedang menerapkan open door policy (politik pintu terbuka).

Demi mempertahankan tanah airnya, Sisingamangaraja XII tidak pernah mau berkompromi bahkan berdiplomasi dengan penjajah. Diputuskan untuk melawan Belanda dengan mengumpulan pasukan di Balige. Hingga pada 1877 Belanda tidak hanya menyerang markas Sisingamangaraja XII tetapi seluruh Toba.

Perang berlangsung lebih dari 20 tahun, selama itu pergerakan dilakukan secara gerilya dengan memanfaatkan hutan, bahkan tidak pernah menginjakkan kaki ke Istana. Hingga akhir hayatnya, Sisingamangaraja XII harus gugur bersama 2 putranya dengan semangat juang dan perlawanan yang gigih.

WAFATNYA SISINGAMANGARAJA XII

Sisingamangaraja XII wafat pada 17 Juni 1907 saat disergap oleh sekelompok anggota Korps Marsose, sebuah pasukan khusus Belanda. Penyergapan tersebut dipimpin oleh Hans Christoffel di kawasan Sungai Aek Sibulbulon, di suatu desa bernama Si Onom Hudon, di perbatasan Humbang dengan Dairi.

Sisingamangaraja XII menghadapi pasukan Korps Marsose sambil memegang senjata Piso Gaja Dompak. Kopral Souhoka, seorang penembak jitu pasukan Marsose, mendaratkan tembakan ke kepala Sisingamangaraja XII tepat di bawah telinganya. Menjelang nafas terakhir, ia tetap berucap, “Ahu Sisingamangaraja” (bahasa Indonesia: “Aku Sisingamangaraja”).

Turut gugur bersamanya adalah kedua putranya, Patuan Nagari Sinambela dan Patuan Anggi Sinambela, serta putrinya, Lopian br. Sinambela. Sementara keluarganya yang tersisa ditawan di Tarutung.
Sisingamangaraja XII kemudian dikebumikan oleh Belanda secara militer pada 22 Juni 1907 di Silindung, setelah sebelumnya mayatnya diarak dan dipertontonkan kepada masyarakat Dairi.

Makamnya kemudian dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional di Soposurung, Balige sejak 14 Juni 1953, yang dibangun oleh pemerintah, msyarakat, dan keluarga.***

Pos terkait