Majelis Kaum Betawi Gelar Kongres Istimewa, Dorong Revisi Regulasi Pelestarian Budaya

Majelis Kaum Betawi Gelar Kongres Istimewa, Dorong Revisi Regulasi Pelestarian Budaya

Fajarasia.id  — Majelis Kaum Betawi (MKB) menggelar kongres istimewa di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, sebagai respons terhadap dinamika perubahan Jakarta menuju status kota global. Kongres ini menghasilkan tiga keputusan strategis, termasuk usulan revisi terhadap Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.

Ketua Wali Amanah MKB, Marullah Matali, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta agar masyarakat Betawi memperkuat peran dan solidaritas dalam menghadapi transformasi Jakarta.

“Kami diminta memperkuat suasana Betawi yang lebih kokoh dan relevan dengan perkembangan Jakarta. Kongres ini adalah bentuk pelaksanaan amanah tersebut,” ujar Marullah.

Ia menegaskan bahwa hasil kongres akan segera disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno. Marullah menekankan pentingnya peran aktif masyarakat Betawi dalam mendukung kebijakan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Betawi adalah bagian tak terpisahkan dari Jakarta. Sudah sepatutnya masyarakat Betawi turut serta dalam pembangunan dan tidak tertinggal dalam program-program strategis,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, MKB menetapkan tiga keputusan utama:

1.Menetapkan kembali Fauzi Bowo sebagai Ketua Dewan Adat dan Marullah Matali sebagai Ketua Wali Amanah Majelis Kaum Betawi.

2.Memperkuat posisi MKB sebagai wadah utama masyarakat Betawi dan warga Jakarta yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Betawi.

3. Mendorong revisi Perda No. 4 Tahun 2015 agar selaras dengan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan Tahun 2017 dan UU No. 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta.

Marullah juga menekankan pentingnya menjaga kekompakan internal agar masyarakat Betawi dapat memberikan kontribusi maksimal.

“Kita harus guyup dan solid. Perbedaan harus diselesaikan secara bijak agar kita bisa terus berkontribusi secara positif,” tutupnya.

Kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya Betawi di tengah arus modernisasi Jakarta, sekaligus memastikan masyarakat adat tetap memiliki ruang dan peran dalam pembangunan kota.***

Pos terkait