Fajarasia.id – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan ekspor Indonesia ke pasar-pasar nontradisional. Menurutnya, diversifikasi tujuan ekspor menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat.
Dalam keterangannya, Rabu (29/10/2025), Nunik mengungkapkan bahwa tren ekspor Indonesia selama satu tahun terakhir di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan peningkatan signifikan ke negara-negara kecil di kawasan Eropa mikro, Pasifik, dan Afrika.
“Data dari Kementerian Perdagangan mencatat total ekspor Indonesia mencapai USD257,65 juta per Oktober 2025. Ini menandakan pergeseran arah kebijakan ekspor yang lebih beragam dan menjangkau pasar baru,” ujar legislator dari Fraksi PKB tersebut.
Ia menilai bahwa diversifikasi ini tidak hanya penting untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan, tetapi juga untuk memperkuat daya saing nasional dan membuka lebih banyak lapangan kerja di tengah tantangan global yang terus berubah.
Sebagai anggota tetap BRICS, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor ke negara-negara dengan ekonomi berkembang. Nunik menekankan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan secara maksimal agar tidak terlewatkan.
“Pelaku usaha kita mulai menjangkau ceruk pasar yang menjanjikan di sektor-sektor tertentu. Industri dalam negeri harus terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi agar mampu bersaing,” tambahnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memperkuat dukungan terhadap ekspor melalui kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha, diplomasi ekonomi yang aktif, serta pembiayaan yang inklusif bagi UMKM.
Nunik menyoroti pentingnya perhatian khusus pada sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan perikanan yang memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja.***





