Fajarasia.co – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya mendorong percepatan hilirisasi timah di Indonesia. Salah satunya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Kementerian ESDM pun menggelar webinar hilirisasi mineral dan batu bara (minerba). Webinar ini dihadiri Dirjen Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin.
“Saat ini industri pertambangan bukan hanya sekedar gali-jual, gali-jual saja. Tetapi sudah memasuki fase pengolahannya,” kata Ridwan, dikutip dari Antara, Sabtu (17/9/2022).
Ia mengatakan, Webinar Hilirisasi Minerba ini bertemakan “Industrialisasi Mineral Menuju Indonesia Emas”. Acara ini diikuti 354 orang secara luring maupun daring.
Webinar ini membahas lima topik. Di antaranya kebijakan sektor minerba. Khususnya dalam mendukung industri nasional dan kesiapan bahan baku mineral logam untuk mendukung industri baterai nasional.
Selain itu, tentang peluang dan tantangan industri pertambangan, penyiapan SDM unggul dalam mengembangkan industri pertambangan nasional. Serta kesiapan industri pertambangan mendukung industri nasional.
Ia mengatakan, ada empat hal penting dalam pertambangan. Pertama industri pertambangan bukan lagi hanya urusan anak geologi pertambangan.
Kedua, kebijakan pemerintah, khususnya yang disampaikan presiden. Bagaimana satu aspek dapat dilihat dari nilai tambahnya, juga melihat sisi lain investasinya.
Ketiga, aspek teknologi dibutuhkan. Dalam hal ini, terutama para pakar profesi dari Indonesia, sehingga menurunkan ketergantungan terhadap teknologi yang diimpor dari luar.
Keempat, adalah tahap operasional, seperti Freeport misalnya yang panjang prosesnya. Dari pembangunan smelter, lokasi membangunnya, penetrasi pasarnya, itu pengalaman penting.
“Inilah yang menjadi alasan webinar ini diadakan di Bangka Belitung,” ujarnya. “Karena melihat industri timah di Babel.”
Sebab, lanjut Ridwan, sebagian besar masyarakat Babel, dan struktur sosial ekonominya, bergantung pada tambang timah tersebut. “Jika tidak dipersiapkan dengan baik, apabila ada goncangan industri ini, maka akan berdampak tidak baik untuk Babel,” ucapnya.****





