Fajarasia.id – Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) prihatin dengan banyaknya anak usia dini menggunakan gawai. Sebab, berbagai informasi, termasuk informasi negatif membanjiri ruang publik, hingga mudah dijangkau oleh kalangan anak-anak.
Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Anak Perempuan, dan Pemuda Kemenko PMK Woro Srihastuti Sulistyaningrum mengatakan, itu menjadi perhatian pihaknya. Karenanya, Seminar Nasional di selenggarakan agar para orang tua memberikan pengawasan terhadap anak mereka.
“Kita harus semakin waspada. Anak-anak kita sudah menjadi digital native, mereka lahir sudah bersandingan dengan teknologi,” kata Woro, Jumat (26/7/2024).
Woro menyampaikan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepertiga anak-anak usia dini usia 0-6 tahun aktif menggunakan gawai. Mereka dapat dengan mudah mengakses dunia maya.
Kondisi ini mengharuskan para orang tua untuk dapat dengan bijak, memberikan metode pengasuhan yang baik kepada anak. “Apalagi seperempat hari mereka digunakan di depan internet,” ujarnya.
“Para orang tua harus bijak dan memberi pengasuhan,” ucapnya. “Hal ini untuk membangun karakter individu-individu yang ada di dalam keluarga”.
Ia menekankan, keluarga memiliki peran sentral menjaga lingkungan, membimbing, dan mengawasi anak. Begitu juga dukungan lingkungan, pendidikan dan masyarakat luas, akan sangat berpengaruh pada proses pembentukan karakter anak.
Pihaknya juga terus menggaungkan tujuan dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Yakni menginternalisasi nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong pada individu, keluarga, dan masyarakat.
Sayangnya, tambahnya, tidak semua konten yang beredar di dunia maya berisi hal baik. Informasi negatif bahkan hoaks sangat mudah diakses dan viral.
Pejabat Kemenko PMK lainnya Warsito menyampaikan, membangun pusat pendidikan dapat melalui empat pilar utama. Pilar utama dimaksud adalah keluarga, sekolah, lingkungan, dan tempat ibadah.
“Keluarga adalah benteng pertama menghadapi gempuran arus informasi. Sehingga dapat membentuk karakter anak,” kata Warsito.
Warsito menambahkan, seiring perubahan zaman dan transformasi teknologi, Revolusi Mental dibutuhkan untuk membangun karakter bangsa yang tangguh. “Pengawasan keluarga akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter terhadap anak,” ujar Warsito.***





