Fajarasia.co – Pemerintah diminta untuk melakukan stabilisasi pangan salah satunya dengan operasi pasar. Pasalnya, dalam tiga bulan harga beberapa komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan juga bawang merah mengalami kenaikan.
“Mungkin ini harus diupayakan terus sehingga agar tidak membebani daya beli masyarakat saecara umum,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede , Rabu (20/7/2022).
Meski terjadi kenaikan harga pangan, menurut Josua, daya beli masyarakat masih menunjukkan tren yang baik. Hal itu berdasarkan indeks kepercayaan konsumen dan survei penjualan eceran dari Bank Indonesia.
“Sebenarnya masih menunjukkan tren yang baik ya dan itu terindikasi dari mobilitas masyarakat mobility index juga menunjukkan tren yang positif. Tetapi dari sisi real pendapatan masyarakat mungkin akan terpangkas dengan pengeluaran yang cenderung meningkat beberapa kebutuhan pokok khususnya pangan,” katanya.
Hal itu, lanjutnya, ditambah lagi dengan masuknya tahun ajaran baru sekolah.
“Kebutuhan masyarakat untuk pendidikan ini juga akan meningkat,” ujarnya.
Momentum tahun ajaran baru sekolah dan kenaikan harga-harga pangan ini yang terjadi saat bersamaan akan membatasi belanja masyarakat secara keseluruhan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan perlunya mendorong ketersediaan pangan agar tetap terpenuhi.
“Ini karena beberapa komoditas seperti cabai dan bawang bisa mengalami gagal panen,” kata Josua.
“Artinya pada saat panen raya barang-barang tersebut bisa disimpan di cold storage atau gudang. Sehingga ini dapat mengantisipasi gagal panen atau terjadi gangguan distribusi sehingga harga-harga menjadi naik dan ini menjadi kebijakan antisipatif,” kata Josua.
Josua menegaskan kebijakan antisipatif harus dilakukan dan jangan sampai ada masalah.
“Sebelum ada masalah, sebelum ada gangguan ini pemerintah harus ada langkah-langkah antisipatif,” ucap Josua. ****




