Interaksi Siswa Tergerus Gawai, Wamendikdasmen Ingatkan Dampak Lingkungannya

Interaksi Siswa Tergerus Gawai, Wamendikdasmen Ingatkan Dampak Lingkungannya

Fajarasia.id – Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat menegaskan, pentingnya mengembalikan interaksi antarsiswa di tengah dominasi penggunaan gawai yang semakin meluas. Waktu anak yang tersita perangkat digital, berdampak pada kemampuan bersosialisasi di lingkungan sekolah.

“Anak itu sekarang lebih banyak berinteraksi dengan gawai. Itu menyita waktu sangat banyak,” kata Atip Kamis(11/12/2025).

Ia menekankan, perlunya gerakan bersama untuk mengembalikan kebiasaan interaksi langsung. Menurutnya, budaya tersebut merupakan ciri kuat masyarakat Indonesia.

“Gerakan Rukun Sama Teman penting untuk mengembalikan kesejatian kita dalam interaksi sesama manusia. Anak Indonesia itu anak yang hebat bermasyarakat,” ucap Atip.

Atip kemudian menegaskan bahwa sekolah merupakan ruang miniatur dari masyarakat. Di sana, berbagai latar belakang siswa berkumpul sehingga interaksi langsung menjadi fondasi penting bagi karakter anak.

“Sekolah itu miniatur dari masyarakat. Tidak boleh ada diskriminasi dan pengklasifikasian,” ujar Atip.

Ia mendorong, penggunaan gawai di kalangan siswa dibatasi. “Kalau biasanya berinteraksi dengan HP sampai delapan jam, mungkin sekarang satu jam, sisanya untuk berinteraksi dengan teman,” kata Atip.

Atip juga menggandeng tokoh muda yang dekat dengan generasi Z dan Alpha. Termasuk Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Farid Ahmad, untuk memperkuat pesan perubahan budaya sekolah tersebut.

Raffi menilai konsep sekolah aman dan nyaman berangkat dari kepercayaan terhadap guru dan aturan sekolah. “Guru dan peraturan sekolah pasti akan membuat yang terbaik untuk kenyamanan dan keamanan murid,” kata Raffi.

Raffi menekankan bahwa kurikulum di setiap jenjang pendidikan sudah dirancang sesuai kebutuhan siswa. “Ilmu pendidikan itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting, yaitu ilmu adab dan kehidupan,” ujar Raffi.

Menurutnya, pembinaan karakter dan adab menjadi bekal utama yang harus ditanamkan sejak dini. “Karena nilai-nilai adab ini akan membentuk generasi muda yang kuat secara moral dan juga sosial,” kata Raffi.

Atip dan Raffi sepakat bahwa gerakan perubahan budaya di sekolah harus melibatkan seluruh pihak. Orang tua, guru, pemerintah, dan siswa perlu bergerak bersama untuk membangun lingkungan belajar yang rukun dan aman.

Pos terkait