Indonesia Resmi Jadi Ketua BIMP-EAGA 2025–2028

Indonesia Resmi Jadi Ketua BIMP-EAGA 2025–2028

Fajarasia.id – Indonesia memegang kursi keketuaan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines – East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) untuk periode 2025–2028. Kepemimpinan ini ditandai melalui pelaksanaan The 12th BIMP-EAGA Micro, Small, Medium Enterprises Development Working Group yang berlangsung di Bali.

Kementerian UMKM selaku tuan rumah diwakili langsung oleh Deputi Bidang Usaha Menengah, Bagus Rachman. Ia menegaskan, kesiapan Indonesia untuk membawa semangat kolaborasi baru bagi penguatan UMKM di kawasan sub-regional Asia Tenggara.

“UMKM merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia. Mereka telah membuktikan daya saing melalui fleksibilitas, kreativitas, dan ketahanan di masa krisis,” ujar Bagus Rachman, dalam keterangannya, Rabu (27/8/2025).

Bagus menjelaskan, BIMP-EAGA merupakan inisiatif kerja sama sub-regional yang berfokus pada percepatan pembangunan sosial-ekonomi. Yakni untuk pembangunan di wilayah terpencil dan kurang berkembang di keempat negara anggotanya.

Kerja sama ini mencakup peningkatan konektivitas, perdagangan, investasi, pariwisata, serta sektor strategis lainnya. Sebagai ketua baru, Indonesia menekankan sejumlah program prioritas yang sejalan dengan agenda nasional.

Agenda tersebut antara lain penguatan ekosistem digital, fasilitasi legalitas dan sertifikasi produk. Selain itu peningkatan akses pembiayaan, perluasan pasar domestik dan internasional, serta pengembangan kemitraan usaha berbasis klaster.

Khusus di sektor perkebunan, Indonesia menyoroti penguatan rantai pasok kakao. Karena kakao sebagai salah satu komoditas unggulan yang berpotensi memperkuat kerja sama regional.

“BIMP-EAGA menjadi platform penting untuk berbagi pengalaman, menyelaraskan kebijakan, serta merumuskan strategi bersama. Tujuannya agar UMKM mampu bersaing di pasar regional maupun global,” ujar Bagus Rachman.

Selain pertemuan resmi, delegasi dari Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina juga mengunjungi salah satu usaha pengolahan kakao. Pengolahan kakao ini berskala menengah di Bali.

“Kunjungan ini bertujuan memperkuat potensi kemitraan rantai pasok antar-UMKM di kawasan. Sekaligus menunjukkan peluang ekspor kakao Indonesia yang selama ini telah masuk ke pasar negara tetangga,” kata Bagus.

Pertemuan ini turut menghadirkan 10 UMKM lokal yang menampilkan produk unggulan mereka. Dan ini sebagai wujud nyata kontribusi pelaku usaha kecil menengah dalam mendukung ekonomi berkelanjutan. ****

 

Pos terkait