Fajarasia.id – Guru Besar IPB, Dwi Andreas Santosa menilai, pemerintah Indonesia akan tetap membutuhkan impor beras tahun 2025. Impor tersebut diakibatkan, karena tantangan pada produksi domestik menghambat swasembada pangan nasional.
“Kita pada 2024 berada pada posisi produksi terendah. Kalau sudah pada posisi ini, biasanya hanya bisa naik, tidak mungkin lebih rendah lagi,” kata Dwi, Rabu (11/12/2024).
Ia mengatakan, penurunan produksi beras telah terjadi secara berturut-turut selama beberapa tahun terakhir. Contohnya, produksi pangan berada pada 2023 menurun.
“Pada 2024 diperkirakan kembali turun sebesar 2,4 persen, seiring dengan penurunan produksi, impor beras menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada 2023, impor beras mencapai 3,06 juta ton, sedangkan pada 2024 diperkirakan mendekati angka 4 juta ton,” ucapnya.
Kelebihan impor tersebut diperkirakan akan berdampak pada ketersediaan stok awal tahun 2025. “Impor ini dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, yang nantinya akan menyumbang pada stok nasional,” ucapnya.
Dwi memperkirakan stok awal tahun 2025 akan mencapai sekitar 6 juta ton. “Ada yang memprediksi hingga 8 juta ton, tetapi saya lebih memilih angka sekitar 6 juta ton,” ujarnya.***




