Fajarasia.id – Setiap 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day sebagai pengingat atas perjuangan panjang perempuan dalam menuntut kesetaraan hak. Lebih dari sekadar perayaan, momentum ini menjadi refleksi atas capaian yang diraih sekaligus dorongan untuk melanjutkan langkah nyata menuju kesetaraan gender.
Sejarah peringatan ini berawal dari National Women’s Day di Amerika Serikat pada Februari 1909. Setahun kemudian, aktivis Clara Zetkin mengusulkan hari internasional untuk memperjuangkan hak perempuan dalam konferensi di Kopenhagen. Pada Maret 1911, peringatan pertama digelar, dan sejak 1913 ditetapkan setiap 8 Maret. PBB mulai merayakan hari ini pada 1975, lalu menetapkan tema tahunan sejak 1996.
Meski sudah berjalan lebih dari satu abad, laporan Gender Snapshot 2024 dari UN Women menunjukkan belum ada indikator SDGs tentang kesetaraan gender yang sepenuhnya tercapai. World Economic Forum juga mencatat kesenjangan terbesar masih terjadi di bidang politik, dengan penutupan hanya 22,8% dan diperkirakan butuh 169 tahun untuk menutupnya.
Tahun ini juga menandai 31 tahun Deklarasi Beijing yang menjadi cetak biru hak perempuan dan anak perempuan. PBB menekankan perlunya investasi besar, kepemimpinan kuat, serta kebijakan nyata untuk mempercepat kesetaraan gender.
Hari Perempuan Sedunia bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa perjuangan masih panjang. Bagi generasi muda, khususnya perempuan Gen Z, momentum ini menjadi relevan karena masa depan ada di tangan mereka. Suara, pilihan, dan tindakan hari ini akan menentukan arah dunia esok.***





