Fajarasia.id – Cawapres Gibrang Rakabuming dipastikan tidak keluar dari PDI.P demikian Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah mengatakan ketika ditanya wartawan usai diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema “Peran DPR Kawal Tahapan Pemilu Usai Pendaftaran Capres” Kamis (26/10) bersama anggota Fraksi PKB Syaiful Huda dan pengamat Politik Citra Institute Yusak Farchan di DPR RI Jakarta.
Menurut Fahri Hamzah memastikan bahwa Gibran Rakabuming tidak keluar dari PDIP, meski kini telah resmi menjadi bakal cawapres Prabowo Subianto di Pilpres 2024. Dengan berstatus sebagai kader PDIP, Gibran akan berhadapan dengan bakal capres dari partainya, Ganjar Pranowo di Pilpres 2024. “Enggak, Mas Gibran clear, tidak keluar dari partai.”
KPU tak mengatur bahwa calon presiden atau wakil presiden harus terikat oleh salah satu partai. Oleh karena itu, banyak capres atau cawapres saat ini bukan merupakan anggota partai, termasuk di antaranya Anies Baswedan yang diusung NasDem, PKB, dan PKS.
Hal ini dinilai tradisi serupa bisa saja dilakukan PDIP. PDIP bisa mengutus kadernya ke beberapa partai untuk maju menjadi capres atau cawapres meski nantinya berhadapan dengan partainya. “Artinya ya PDI.P sebenarnya mungkin karena partainya besar, jadi kadernya memang bisa menyebar di mana-mana kan bisa jadi begitu, tutur Fahri Hamzah.”
Sedangkan Syaiful Huda mengatakan secara normatif tahapan hanya tinggal 4 tahapan, yang pertama penetapan tanggal 13 November kemudian kampanye 28 November dan ada masa tenang dan pencoblosan,
yang menarik dari 4 tahapan ini ada jagoannya Bang Fahri sebenarnya, yang baru kemarin didaftarkan pasangan prabowo dan Gibran, jadi semua tahapan itu akan diwarnai oleh adanya sosok Gibran putra dari Pak presiden Pak Jokowi.
Jadi kalau tahapan Saya kira akan berjalan seperti biasa, penetapan kita tinggal tunggu KPU, setelah tadi pagi pasangan terakhir Pak Prabowo dan Gibran, sekarang sedang di tes kesehatan, kita tunggu sampai nanti sore.
Kemudian masa masa kampanye yang hanya 75 hari ini kira-kira dinamikanya seperti apa dan akan diwarnai seperti apa, kalau soal ini kita tunggu saja apa yang akan sedang terjadi antara poros Mas Ganjar dan Pak Prabowo, dinamika apa yang akan terjadi ke depan.
Karena kalau pasangan AMIN relatif, tidak menjadi bagian dari dinamika terakhir dari proses pembentukan poros terakhir jadi masa kampanye hanya ada dua kutub, terkecuali kita tunggu sikap politik dari teman-teman PDI.P, kalau sikap PDIP tetap begini sampai kampanye, artinya dua-duanya mengusung agenda keberlanjutan dan hanya pasangan AMIN yang dalam kampanye 75 hari yang akan mengusung agenda perubahan, kira-kira itu kalau pada tahapan masa kampanye.
Kami sendiri berharap di masa kampanye ini semua gagasan terbaik dari tiga paslon ini harus mendapatkan ruang sebaik baiknya, jadi diskusi yang produktif, supaya kita menaikkan level politik kita yang sangat pragmatis ini, kita lambungkan pada politik yang sesungguhnya, yaitu soal agenda perjuangan, agenda perbaikan dan agenda perubahan kedepan.
Karena itu sejelek apapun program, menurut saya yang didorong oleh setidak relevan apapun program yang nanti akan didorong dalam masa kampanye oleh tiga pasangan ini menurut saya, itu akan lebih baik timbang kita terjebak pada politik pragmatisme. Siapa yang disokong oleh logistik dan institusi kekuasaan yang lalu akan apa akan menjadi pertimbangan rakyat untuk masyarakat untuk memilih saya kira itu tidak produktif.
Karena itu pada tahapan kampanye ini kita berharap politik gagasan dari masing-masing calon ini kita beri ruang seluas-luasnya dan saya kira teman-teman media dan teman-teman pers yang hadir pada hari ini punya komitmen yang sama menyangkut soal ini. Supaya sekali lagi politik kita tidak terjebak pada pragmatisme dan berbagai potensi yang lain kita dorong saja proses politik ini beradu argumen dan gagasan politik, tutur Syaiful Huda.
Sementara itu Yusak Farchan mengatakan kalau kita mengacu sebelas tahapan Pemilu yang diatur oleh UU Pemilu, sekarang ini kita sudah masuk pada tahapan ke-6, pencalonan tinggal tersisa 5 tahapan lagi, kampanye,kemudian masa tenang, pemungutan dan penghitungan suara, kemudian penetapan hasil pemilu dan yang terakhir tentu adalah pengucapan sumpah atau janji presiden-wapres terpilih DPR/DPD dan DPRD.
Saya kira dari 11 tahapan itu tidak ada yang paling menarik, kecuali memang dua tahapan, pertama tahapan kandidasi atau pencalonan, yang kedua tahapan kampanye, nah di tahapan kandidasi yang sangat panjang, terutama dipileg nya ini dan ini kan memang kita disuguhi banyak sekali dansa-dansa politik bahkan drama-drama poitik.
Drama politik pertama adalah bergabungnya partai PKB dengan porosnya bapak Anies, yang sebelumnya kita tak pernah membayangkan PKB bakal bergabung dengan Pak Anies serta PKS. jadi menipiskan batas-batas ideologis yang sebetulnya kita tak pernah membayangkan PKB bisa bersatu dengan PKS, sekalipun dalam politik semua kemungkinan itu terbuka lebar.
Tetapi kenapa kemudian Nasdem agresif berburu calon wapres yang berada di lingkaran Islam tradisional atau NU, saya kira memang ada pertimbangannya. Tentu harapannya adalah bagaimana Cak Iimin bisa menambah insentif electoral, Karena bagaimanapun ya Jawa Timur tetap akan menjadi battle ground paling sengit, terutama bagi 3 provinsi terbesar yang akan menyumbangkan suaranya nanti, yang selain Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Jadi saya kira keputusan politik Nasdem pada titik itu kita bisa pahami, kubunya pak Anies selain berharap elektoral ya, saya kira Pak Anies sedang bekerja bagaimana mengkounter serangan yang sangat agresif terkait dengan penggunaan politik identitas, karena PKB kita kenal sangat teguh berpegang pada prinsip-prinsip campain yang tidak berbasis pada penggunaan politik identitas, tutur Yusak Farchan.***





