Fajarasia.id – Uni Eropa resmi mengajukan Rancangan Undang-Undang Akselerator Industri (IAA) sebagai langkah memperkuat produksi kendaraan listrik dan teknologi energi bersih di dalam negeri. Namun, kebijakan ini dinilai belum cukup agresif untuk menahan dominasi China dalam rantai pasokan baterai dan komponen kendaraan listrik.
IAA mewajibkan sebagian besar perakitan akhir kendaraan listrik yang dibeli pemerintah dilakukan di Eropa, dengan 70% komponen non-baterai harus diproduksi lokal. Meski begitu, baterai buatan China tetap diperbolehkan, mencerminkan sulitnya Eropa melepaskan ketergantungan pada produk murah dan kompetitif dari Negeri Tirai Bambu.
Dominasi merek China di pasar EV Eropa terus meningkat, mencapai pangsa 12,8% pada November lalu. Kondisi ini menekan produsen baterai Korea seperti LG Energy Solution, Samsung SDI, dan SK On, yang pangsa pasarnya turun drastis dari 71% pada 2021 menjadi sekitar 35% pada 2025.
Hyundai dan Kia juga menghadapi tekanan besar. Meski memiliki fasilitas produksi di Republik Ceko dan Slovakia, sebagian besar kendaraan listrik mereka masih diekspor dari Korea. Jika aturan konten lokal diperluas ke pasar swasta, kedua raksasa otomotif Korea itu harus mempercepat lokalisasi produksi di Eropa.
IAA sekaligus menandai dilema Eropa: memperkuat industri lokal tanpa membebani konsumen dengan harga tinggi, sembari tetap berhadapan dengan daya saing agresif China di pasar kendaraan listrik global.****





